World Hepatitis Day - 28 Juli 2025

 

 

Hari Hepatitis Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan virus hepatitis, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hati.

Tema untuk tahun 2025: He

Mari Kita Hancurkan, menyerukan tindakan segera untuk menghilangkan hambatan finansial, sosial, dan sistemik, termasuk stigma, yang menghalangi eliminasi hepatitis dan pencegahan kanker hati.
Let’s Break It Down calls for urgent action to dismantle the financial, social and systemic barriers – including stigma – that stand in the way of hepatitis elimination and liver cancer prevention.

Hepatitis B dan C kronis diam-diam menyebabkan kerusakan hati dan kanker – meskipun sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan, dalam kasus hepatitis C, dapat disembuhkan. Tema ini menekankan perlunya menyederhanakan, meningkatkan skala, dan mengintegrasikan layanan hepatitis – vaksinasi, praktik injeksi yang aman, pengurangan dampak buruk, dan terutama pengujian dan pengobatan – ke dalam sistem kesehatan nasional.

Kampanye ini mengingatkan kita bahwa kita harus bertindak sekarang untuk memperluas akses, mengintegrasikan perawatan, dan mengakhiri hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.

 


The campaign is a reminder that we must act now to expand access, integrate care, and end hepatitis as a public health threat by 2030.

Global Hepatitis Programme

Blepharoplasty Operasi Mata

 

Blepharoplasty (bukan Bhleparoplasty) adalah prosedur bedah plastik pada kelopak mata yang bertujuan untuk memperbaiki tampilan atau fungsi kelopak mata atas, bawah, atau keduanya, untuk mengangkat kelebihan kulit, lemak, dan/atau otot pada kelopak mata, baik bagian atas maupun bawah, yang dapat dilakukan untuk alasan estetika maupun medis.

Tujuan Blepharoplasty:

  1. Estetika (kosmetik):

    • Mengurangi tampilan mata yang tampak lelah, tua, atau bengkak.

    • Meningkatkan kontur dan bentuk mata agar terlihat lebih segar dan muda.

  2. Fungsional (medis):

    • Mengatasi gangguan penglihatan akibat kulit kelopak mata atas yang menggantung terlalu rendah (ptosis).

    • Menghilangkan kantung mata yang mengganggu.

 Jenis-jenis Blepharoplasty:

  1. Blepharoplasty Kelopak Mata Atas

    • Mengangkat kelebihan kulit dan lemak pada kelopak atas.

    • Umum dilakukan karena penuaan atau gangguan penglihatan.

  2. Blepharoplasty Kelopak Mata Bawah

    • Menghilangkan kantung mata atau kerutan pada bagian bawah mata.

    • Bisa dilakukan melalui sayatan luar atau dari dalam (transkonjungtival). 

Alat Medis yang Dibutuhkan dalam Operasi Blepharoplasty

1. Retraktor dan Penjepit

  • Desmarres retractor – untuk menarik kelopak mata dan memberi visualisasi lebih baik.

  • Chalazion clamp – menstabilkan dan menekan jaringan kelopak.

  • McPherson forceps – pinset presisi untuk memegang jaringan halus.

  • Fine-toothed forceps – untuk mengangkat atau memanipulasi kulit halus.

2. Alat Hemostasis (Penghentian Perdarahan)

  • Bipolar atau monopolar electrocautery – untuk mengontrol perdarahan mikro saat prosedur.

  • Hemostatic sponge atau gel foam – bahan untuk membantu menghentikan perdarahan kecil.

3. Alat Pengukur dan Penanda

  • Caliper atau ruler bedah – untuk mengukur dan menandai area insisi secara simetris.

  • Marker kulit steril – untuk menandai batas insisi pada kelopak mata sebelum operasi.

4. Peralatan Menjahit

  • Needle holder kecil – untuk memegang jarum jahit dengan presisi.

  • Benang bedah non-absorbable (misalnya nylon 6-0 atau 7-0) – digunakan untuk menjahit kulit kelopak yang sangat tipis.

  • Scissors mikro (iris scissors) – untuk memotong jaringan atau benang dengan presisi tinggi.

5. Pelindung Bola Mata

  • Corneal shield atau protector – digunakan untuk melindungi bola mata selama prosedur, terutama jika dilakukan blepharoplasty bawah.

6. Alat dan Bahan Pendukung

  • Saline steril – untuk irigasi dan pembersihan luka.

  • Eye ointment (antibiotik) – untuk mencegah infeksi pasca operasi.

  • Draping dan dressing steril – untuk menjaga area operasi tetap steril.

Catatan Tambahan:

  • CO₂ laser biasanya digunakan untuk membuat insisi dengan lebih sedikit perdarahan dan trauma jaringan.

  • Dalam prosedur blepharoplasty modern, beberapa dokter juga menggunakan radiofrekuensi atau plasma pen sebagai alternatif CO₂ laser

Prosedur Operasi Blepharoplasty

1. Persiapan Pra-Operatif

  • Konsultasi medis: Evaluasi riwayat kesehatan, keluhan estetika/visual, serta ekspektasi pasien.

  • Pemeriksaan fisik mata: Posisi kelopak, tonus otot orbikularis, dan pengukuran kulit berlebih.

  • Foto pre-operatif: Untuk dokumentasi dan perbandingan hasil.

  • Tandai area insisi: Menggunakan spidol bedah dan kaliper untuk menjamin simetri.

  • Anestesi lokal: Diberikan di sekitar kelopak mata. Kadang dikombinasikan dengan sedasi ringan.

2. Insisi (Sayatan)

a. Blepharoplasty Kelopak Atas:

  • Sayatan dibuat di lipatan alami kelopak atas (supraorbital fold).

  • Kulit, jaringan subkutan, dan kadang sebagian otot orbikularis diangkat.

  • Lemak orbital yang menonjol juga bisa diangkat atau direposisi.

b. Blepharoplasty Kelopak Bawah:

  • Dua pendekatan umum:

    • Transkutan (melalui kulit luar bawah mata): Sayatan tepat di bawah garis bulu mata.

    • Transkonjungtival (melalui bagian dalam kelopak bawah): Cocok untuk menghilangkan lemak tanpa memotong kulit.

  • Lemak yang menonjol diangkat atau dipindahkan, dan kelebihan kulit dapat dipotong jika perlu.

3. Penutupan Luka

  • Luka dijahit dengan benang halus non-absorbable (seperti nylon 6-0 atau 7-0).

  • Sayatan dirancang agar bekas luka tersembunyi di lipatan alami mata.

  • Jika transkonjungtival, biasanya tidak perlu jahitan eksternal.

4. Perawatan Pasca-Operasi

  • Kompres dingin untuk mengurangi bengkak dan memar.

  • Salep antibiotik atau tetes mata untuk mencegah infeksi.

  • Obat nyeri ringan jika diperlukan.

  • Jahitan biasanya dilepas dalam 5–7 hari.

  • Pasien dianjurkan tidak mengucek mata, tidak olahraga berat, dan menghindari paparan matahari langsung selama masa pemulihan awal.

Durasi Operasi

  • Sekitar 30–60 menit per sisi.

  • Bisa dilakukan rawat jalan (tanpa rawat inap) kecuali ada komplikasi atau tindakan tambahan.

Risiko dan Komplikasi

  • Memar dan bengkak (umum, bersifat sementara)

  • Infeksi

  • Asimetri kelopak

  • Mata kering

  • Gangguan penutupan kelopak (lagophthalmos) bila terlalu banyak kulit diangkat

Rekomendasi Jenis Alat Kesehatan yang wajib kita miliki di Rumah

 

 


Memiliki beberapa alat kesehatan dasar di rumah sangat penting untuk memantau kesehatan harian, pertolongan pertama, atau mengelola kondisi kronis. 

Alat Kesehatan yang Disarankan Ada di Rumah

1. Termometer Digital

  • Untuk mengukur suhu tubuh.

  • Berguna saat demam, infeksi, atau pemantauan pasca vaksin.

2. Tensimeter (Pengukur Tekanan Darah)

  • Manual (dengan stetoskop) atau digital (lebih praktis).

  • Penting bagi penderita hipertensi atau keluarga dengan risiko jantung.

3. Pulse Oximeter

  • Mengukur saturasi oksigen (SpO₂) dan denyut nadi.

  • Sangat berguna selama masa COVID-19, gangguan pernapasan, atau asma.

4. Glucometer (Alat Cek Gula Darah)

  • Wajib bagi penderita diabetes.

  • Digunakan untuk mengontrol kadar gula harian.

5. Alat Inhalasi/Nebulizer

  • Untuk penderita asma atau gangguan pernapasan.

  • Mengubah obat cair menjadi uap yang mudah dihirup.

6. Kotak P3K (Pertolongan Pertama)

Wajib diisi dengan:

  • Perban, kasa steril, plester

  • Alkohol 70%, povidone iodine

  • Gunting, pinset, sarung tangan medis

  • Obat luka ringan, salep antiseptik

7. Timbangan Badan Digital

  • Untuk memantau berat badan secara rutin.

8. Alat Ukur Tinggi Badan

  • Terutama bila ada anak-anak atau untuk keperluan status gizi

     

Tambahan Opsional:

  • Stetoskop (jika ada petugas medis di rumah)

  • Alat bantu dengar (untuk lansia)

  • Test pack kehamilan

  • Alat pengukur kolesterol digital 

Tips:

  • Simpan alat-alat di tempat yang mudah dijangkau, bersih, dan kering. Suhu ruangan 23 derajat dengan kelembaban 40% - 60%

  • Cek tanggal kedaluwarsa alat dan baterai secara berkala.

  • Ajarkan anggota keluarga cara penggunaannya dengan benar.

Operasi Bariatrik Penurunan Berat Badan

 

 

 

Bedah bariatrik, dikenal juga sebagai bedah metabolik atau bedah penurunan berat badan, adalah intervensi bedah untuk mengatasi masalah obesitas.

Jenis bedah ini terbukti lebih efektif daripada perubahan gaya hidup, pola makan, dan intervensi medis dalam penanganan obesitas. Bedah ini mengubah beberapa bagian dari saluran gastrointestinal (pencernaan) guna menurunkan berat badan.

Berikut adalah alur prosedur operasi bariatrik (bedah penurunan berat badan) secara umum, khususnya untuk teknik yang paling umum seperti Gastric Sleeve atau Gastric Bypass, yang dilakukan dengan metode laparoskopi (keyhole surgery):

ALUR PROSEDUR OPERASI BARIATRIK (LAPAROSKOPIK)

1. Evaluasi Pra-operasi

  • Pemeriksaan menyeluruh: darah, jantung, paru, status gizi.

  • Konsultasi dengan ahli gizi, psikolog, dan dokter bedah.

  • Diet khusus beberapa minggu sebelum operasi.

  • Puasa 8–12 jam sebelum operasi.

2. Persiapan dan Anestesi

  • Pasien dibius total (anestesi umum).

  • Diposisikan terlentang dengan kepala lebih tinggi dari kaki (reverse Trendelenburg).

  • Area perut disterilkan.

3. Insuflasi dan Pemasangan Trokar

  • Karbon dioksida (CO₂) diisi ke rongga perut untuk mengembangkan ruang operasi.

  • 4–6 trokar (tabung kecil) dimasukkan melalui sayatan kecil di perut.

4. Prosedur Operatif (Contoh: Gastric Sleeve)

  • Sebagian besar lambung (~75–80%) diangkat.

  • Lambung dibentuk jadi seperti tabung sempit (sleeve).

  • Dilakukan dengan stapler bedah khusus.

📌 Alternatif: Gastric Bypass

  • Lambung dipotong jadi kantong kecil.

  • Usus halus dihubungkan langsung ke kantong tersebut.

  • Mengurangi penyerapan kalori dan rasa lapar.

5. Pemeriksaan Kebocoran dan Penutupan

  • Dicek apakah ada kebocoran dari saluran pencernaan.

  • Semua alat dilepas, gas dikeluarkan, luka ditutup dengan jahitan/lem bedah.

6. Pemulihan Pasca Operasi

  • Pasien dibawa ke ruang pemulihan.

  • Diberikan cairan infus dan penghilang nyeri.

  • Mobilisasi dini dalam 4–6 jam.

  • Makanan cair dimulai 1–2 hari pascaoperasi.

7. Perawatan Lanjutan

  • Diet ketat bertahap: cair → lunak → padat (dalam 4–6 minggu).

  • Pemantauan nutrisi (vitamin, zat besi, protein).

  • Dukungan psikologis dan edukasi gaya hidup.

 

ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM OPERASI BARIATRIK

1. Laparoskopi

  • Kamera panjang tipis dengan cahaya di ujungnya.

  • Memasukkan visual ke monitor untuk panduan bedah.

2. Trocar dan Cannula

  • Tabung kecil tempat masuknya instrumen bedah ke rongga perut.

  • Biasanya 4–6 buah dipasang di beberapa titik di perut.

3. Insufflator + Veress Needle

  • Mengisi rongga perut dengan gas CO₂ agar ruang operasi terbuka.

  • Veress needle digunakan untuk masuk awal ke rongga peritoneum.

4. Stapler Bedah (Surgical Stapler)

  • Untuk memotong dan menyambung lambung atau usus secara otomatis.

  • Khusus untuk prosedur:

    • Sleeve gastrectomy: memotong 80% lambung.

    • Gastric bypass: membentuk kantong lambung kecil dan bypass usus.

5. Grasper / Dissektor / Scissors

  • Grasper: menjepit dan memindahkan jaringan.

  • Dissector: memisahkan jaringan dan organ.

  • Scissors: memotong jaringan lunak.

6. Electrocautery / Harmonic Scalpel

  • Untuk memotong dan membakar jaringan agar tidak berdarah.

  • Harmonic scalpel menggunakan ultrasound (lebih presisi, minim panas).

7. Suction-Irrigation Device

  • Untuk menyedot cairan, darah, dan membilas area operasi.

8. Port Laparoskopik dengan Kamera & Monitor

  • Kamera tersambung ke sistem video dan monitor beresolusi tinggi.

9. Retractor Khusus (Liver Retractor)

  • Untuk menahan dan mengangkat hati agar lapangan operasi terbuka.

10. Sutures, Clip Applier, atau Staple Loaders

  • Untuk menjahit jaringan dalam atau memasang klip pembuluh darah.

Peralatan Pendukung :

  • Mesin anestesi

  • Infus dan pompa obat

  • Pemanas tubuh (untuk menjaga suhu pasien selama operasi)

  • Alat navigasi / robotik (jika prosedur dilakukan dengan bantuan robot)

 

RESIKO OPERASI BARIATRIK :

Umumnya, bedah bariatrik adalah prosedur yang aman. Sama seperti pembedahan besar lain, prosedur ini juga disertai beberapa risiko, misalnya:

  • Infeksi
  • Perdarahan hebat
  • Reaksi simpang terhadap anestesi
  • Penggumpalan darah dan trombosis vena dalam
  • Kebocoran usus di sepanjang sambungan staples
  • Masalah paru atau pernapasan

Tergantung jenis bedahnya, komplikasi jangka panjang bedah bariatrik dapat mencakup:

  • Obstruksi usus
  • Sindrom dumping, yang menyebabkan diare, mual, atau muntah
  • Kekurangan vitamin dan nutrisi
  • Batu empedu
  • Hernia
  • Tukak

Seiring berjalannya waktu, target penurunan berat badan mungkin tidak tercapai dan berat badan Anda bisa saja kembali ke semula. Penyebab umumnya adalah karena tidak mengikuti rekomendasi dokter atau tidak mengubah gaya hidup, termasuk menerapkan kebiasaan makan sehat dan latihan fisik rutin


Tindakan Operasi KeyHole Surgery atau Laparoskopi

 


Teknik operasi keyhole surgery atau yang dikenal juga sebagai laparoskopi (atau endoskopi tergantung lokasi) adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan melalui sayatan kecil, biasanya sekitar 0.5–1.5 cm. Teknik ini menggunakan beberapa alat khusus. Berikut adalah alat-alat utama yang digunakan dalam keyhole surgery:

1. Laparoskop (atau Endoskop)

  • Kamera kecil dengan sumber cahaya di ujungnya.

  • Dimasukkan ke dalam tubuh melalui sayatan kecil.

  • Menyediakan gambar langsung dari dalam tubuh yang ditampilkan di layar monitor.

2. Trokars (Trocar)

  • Alat berbentuk tabung untuk menciptakan akses masuk ke rongga tubuh.

  • Digunakan untuk memasukkan instrumen bedah lainnya.

3. Insuflator dan Veress Needle

  • Insuflator: Mengisi rongga perut dengan gas (biasanya karbon dioksida/CO₂) untuk menciptakan ruang kerja.

  • Veress needle: Jarum khusus untuk memasukkan gas ke dalam perut sebelum pemasangan trocar.

4. Instrumen Bedah Panjang dan Tipis

  • Seperti:

    • Grasper: Untuk memegang jaringan.

    • Scissors: Gunting untuk memotong jaringan.

    • Dissector: Untuk memisahkan jaringan.

    • Hook/Cautery: Untuk memotong dan membakar jaringan agar tidak berdarah (elektrokauter).

    • Clip applier: Untuk menutup pembuluh darah atau saluran.

5. Suction-Irrigation Device

  • Untuk menyedot cairan atau darah dan membilas area operasi.

6. Monitor dan Sistem Video

  • Menampilkan gambar dari laparoskop agar tim bedah dapat melihat area operasi secara real-time.

7. Anestesia Machine dengan Ventilator

  • Anestesi umum untuk pasien selama tindakan operasi.

 

Prosedur keyhole surgery lewat alis atau dikenal sebagai transbrow endoscopic surgery adalah teknik bedah minimal invasif yang digunakan terutama untuk mengakses tulang dasar tengkorak depan, seperti tumor di daerah orbita, sinus frontal, atau otak bagian depan (anterior cranial fossa).

Berikut alur prosedurnya secara umum:

1. Persiapan Pasien

  • Pasien dalam posisi terlentang, kepala difiksasi.

  • Area alis dibersihkan dan disterilkan.

  • Anestesi umum diberikan.

2. Sayatan di Atas Alis

  • Sayatan kecil (sekitar 2–3 cm) dibuat menyusuri lengkung alis, menyamarkan bekas luka.

  • Jaringan kulit dan lemak diangkat dengan hati-hati untuk mencapai tulang frontal.

 3. Trepanasi (Bukaan Tulang)

  • Lubang kecil (burr hole) dibuat pada tulang dahi menggunakan bor bedah.

  • Diperluas secukupnya agar alat endoskop dan instrumen bisa masuk.

4. Pemasangan Endoskop

  • Endoskop dimasukkan melalui lubang tersebut.

  • Kamera memberikan pandangan jelas ke area target (misal: tumor, sinus, otak depan)

5. Prosedur Bedah

  • Alat-alat mikro dan panjang dimasukkan melalui lubang yang sama atau tambahan kecil.

  • Dilakukan:

    • Pengangkatan tumor

    • Drainase abses atau kista

    • Perbaikan fraktur dasar tengkorak

  • Operasi dibantu dengan sistem navigasi neuronavigasi (GPS otak) untuk akurasi tinggi.

6. Penutupan

  • Setelah prosedur selesai:

    • Perdarahan dikontrol

    • Tulang ditutup kembali (dengan plate atau dibiarkan terbuka tergantung kasus)

    • Kulit dijahit rapi agar bekas luka minimal dan tersembunyi

7. Pemulihan

  • Pasien dipantau pascaoperasi.

  • Waktu rawat lebih singkat daripada operasi terbuka konvensional.

  • Risiko komplikasi (infeksi, perdarahan) lebih rendah.

 

Insiden Keselamatan Pasien

 

 


Jenis-jenis insiden keselamatan pasien diklasifikasikan untuk membantu rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan mengenali, melaporkan, dan mencegah kejadian yang membahayakan pasien. Klasifikasi ini biasanya merujuk pada sistem yang digunakan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan RI.

Klasifikasi Jenis Insiden Keselamatan Pasien

1. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)

Kejadian yang menyebabkan cedera atau kematian pasien yang seharusnya bisa dicegah.

Contoh:

  • Pasien jatuh dari tempat tidur dan mengalami fraktur

  • Salah pemberian obat → pasien mengalami syok anafilaksis

  • Luka bakar karena alat kauter

2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC / Near Miss)

Kejadian yang nyaris terjadi cedera pada pasien, tapi berhasil dicegah tepat waktu.

Contoh:

  • Obat salah dosis sudah hampir diberikan, tapi dicek ulang dan dibatalkan

  • Pasien hampir disuntik dengan obat alergi, tapi data alergi dibaca sebelum tindakan

3. Kejadian Potensial Cedera (KPC)

Kejadian yang belum sampai pada pasien, tapi memiliki potensi menimbulkan cedera.

Contoh:

  • Kabel alat elektromedis aus, bisa menyebabkan korsleting

  • Alat ventilator rusak saat dicek sebelum dipasang pada pasien

4. Kejadian Sentinel

KTD yang menyebabkan kematian, cedera serius, atau risiko tinggi secara permanen pada pasien.

Contoh:

  • Operasi pada bagian tubuh yang salah (wrong site surgery)

  • Bayi tertukar

  • Pasien bunuh diri saat dirawat

⚠️ Wajib dilaporkan dan dianalisis secara mendalam (root cause analysis)

 

Contoh Kategori Insiden Berdasarkan Penyebab

KategoriContoh
Kesalahan Pemberian ObatSalah dosis, rute, waktu, atau pasien
Kesalahan ProsedurSalah operasi, infeksi luka operasi
Alat Kesehatan / TeknologiMalfungsi alat, kalibrasi tidak tepat
KomunikasiPerintah tidak jelas, misinformasi antar petugas
Identifikasi PasienSalah pasien, label tidak lengkap
Jatuh / Cedera FisikPasien jatuh di kamar mandi, lantai licin
Infeksi NosokomialInfeksi dari tindakan invasif atau lingkungan RS

Tujuan Pelaporan Insiden

  • Meningkatkan budaya keselamatan pasien

  • Menurunkan kejadian yang berulang

  • Memperbaiki sistem dan SOP

  • Memberi pembelajaran organisasi

 

 

Kenapa pemasangan Infus kepada Pasien, direkomendasikan menggunakan alat Kesehatan Infusion Pump ?

 

Pemasangan infus rata-rata menggunakan infusion pump terutama karena kebutuhan akan akurasi, keselamatan, dan efisiensi dalam pemberian cairan atau obat. Meskipun tidak semua infus harus memakai infusion pump, penggunaannya kini semakin direkomendasikan dalam pelayanan medis modern, khususnya di ruang perawatan intensif, ruang bedah, dan instalasi rawat inap dengan pasien risiko tinggi.

Alasan Mengapa Infus Rata-Rata Harus Menggunakan Infusion Pump:

1. Akurasi Pemberian Cairan & Obat

  • Infusion pump memastikan volume dan kecepatan sangat presisi, bahkan pada laju infus rendah seperti 0,1 mL/jam.

  • Cocok untuk obat-obatan dengan dosis kecil dan sensitif seperti dopamin, insulin, heparin.

2. Keselamatan Pasien

  • Mengurangi risiko:

    • Overdosis
    • Aliran cairan terlalu cepat/lambat
    • Underdosis
  • Beberapa model dilengkapi alarm otomatis jika terjadi:

    • Udara dalam selang (air embolism)

    • Oklusi (sumbatan)

    • Volume infus habis

3. Efisiensi Waktu Tenaga Medis

  • Tidak perlu menyesuaikan tetesan manual

  • Mempermudah pengawasan berkala, terutama dalam pasien kritis

  • Perawat bisa mengatur dosis terprogram dan fokus ke intervensi klinis lainnya

4. Pemantauan & Dokumentasi Lebih Baik

  • Infusion pump digital modern bisa terhubung ke SIMRS (Sistem Informasi Manajemen RS)

  • Data kecepatan infus, total cairan masuk, dan waktu tercatat otomatis

5. Standar Keselamatan dan Akreditasi

  • KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dan JCI (Joint Commission International) mendukung penggunaan infusion pump pada kasus:

    • Pemberian obat high-alert

    • ICU, NICU, dan kamar bedah

    • Terapi jangka panjang & cairan nutrisi parenteral

Kapan Boleh Tanpa Alat Infusion Pump?

  • Pemberian cairan biasa (NaCl, RL) tanpa obat khusus

  • Infus pasien stabil di ruang rawat biasa

  • Situasi darurat di lapangan (dengan tetesan manual cepat)

📌 Kesimpulan:

Infusion pump memberikan tingkat akurasi dan keamanan yang tidak bisa dicapai dengan infus manual, sehingga semakin banyak digunakan sebagai standar operasional rumah sakit modern, khususnya untuk pasien kritis dan pemberian obat-obatan berisiko tinggi.

Pada pemasangan infus manual, risiko meningkat bila tidak teliti memeriksa gelembung udara. Emboli udara adalah insiden serius yang bisa dicegah. Meskipun jarang menyebabkan kematian, emboli udara bisa menyebabkan gangguan napas, sirkulasi, hingga stroke jika tidak ditangani cepat. Udara yang masuk ke dalam selang infus, baik saat menggunakan infus manual maupun infusion pump , dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama jika udara tersebut masuk ke dalam sistem peredaran darah pasien.

 

Efek Buruk dari Udara Masuk ke dalam Infus

  • 1. Emboli Udara (Air Embolism)

    Merupakan komplikasi paling berbahaya.

    Penjelasan:
    Udara masuk ke pembuluh darah vena atau arteri → terbawa aliran darah → menyumbat aliran darah ke jantung, paru-paru, atau otak.

    Gejala:

  • Nyeri dada

  • Sesak napas mendadak

  • Pusing, pingsan

  • Penurunan tekanan darah

  • Henti jantung (kasus berat)

Kondisi kritis: Bisa berakibat fatal jika volume udara cukup besar dan tidak ditangani segera.

2. Gangguan Aliran Infus

  • Gelembung udara mengganggu presisi aliran cairan atau obat.

  • Pada infusion pump, alarm akan berbunyi jika terdeteksi udara (air-in-line detection).

  • Bisa membuat infus tidak bekerja efektif.

3. Reaksi Cemas atau Psikologis

  • Pasien yang melihat gelembung udara dalam selang bisa panik atau cemas, meskipun volumenya kecil dan tidak berbahaya. 


Berapa Banyak Udara yang Berbahaya?

  • < 0.5 mL umumnya tidak menimbulkan efek jika masuk perlahan melalui vena perifer.

  • > 10-20 mL bisa mulai menimbulkan gejala klinis.

  • > 50 mL secara cepat, terutama ke vena sentral, sangat berisiko tinggi dan bisa mengancam nyawa.

     

Pencegahan

  • Periksa gelembung udara sebelum menyambung infus.

  • Gunakan filter udara pada infus sentral.

  • Selalu isi penuh ruang tetes dan selang sebelum pemasangan.

  • Pastikan infusion pump dilengkapi sensor gelembung udara.

  • Teknik aseptik saat menyuntikkan obat ke selang infus.

📌 Kesimpulan:

Udara dalam infus, terutama dalam jumlah besar dan masuk cepat ke dalam sirkulasi, adalah insiden keselamatan pasien serius. Petugas medis harus selalu memeriksa dan mencegah masuknya udara saat pemberian infus

Rumah Sakit mulai menggunakan AI Artificial Inteligence untuk pembacaan diagnostik pasien

 

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembacaan hasil radiologi menimbulkan berbagai pro dan kontra di kalangan profesional medis, pasien, dan pengembang teknologi. Berikut adalah rangkuman pandangan dari kedua sisi:

✅ Pro (Keunggulan Pemakaian AI dalam Radiologi)

1. Kecepatan dan Efisiensi

  • AI dapat memproses ribuan gambar radiologi (seperti CT scan, MRI, dan X-ray) dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan radiolog manusia.

  • Mengurangi waktu tunggu pasien untuk mendapatkan hasil.

2. Akurasi Tinggi dalam Deteksi Awal

  • AI mampu mengenali pola-pola mikroskopis yang mungkin terlewat oleh mata manusia, misalnya dalam deteksi dini kanker paru, payudara, atau stroke.

  • Dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis bila digunakan sebagai alat bantu.

3. Mengatasi Kekurangan Radiolog

  • Di banyak daerah (terutama di negara berkembang), jumlah radiolog terbatas. AI bisa membantu menjembatani kekurangan tenaga ahli.

4. Standarisasi Interpretasi

  • Mengurangi variasi subjektif antara satu radiolog dan lainnya dalam membaca hasil pencitraan.

 

❌ Kontra (Tantangan dan Risiko Pemakaian AI)

1. Risiko Ketergantungan dan Overreliance

  • Ketergantungan pada AI bisa mengurangi kewaspadaan atau inisiatif profesional radiolog untuk mempertanyakan hasil yang dihasilkan mesin.

2. Masalah Akurasi dan Bias

  • AI bisa menghasilkan kesalahan apabila modelnya dilatih dari dataset yang bias atau tidak representatif.

  • Misalnya, algoritma yang dilatih dari data ras/etnis tertentu mungkin tidak akurat untuk populasi lain.

3. Keterbatasan Konteks Klinis

  • AI hanya mengandalkan data input (gambar), tanpa memahami konteks klinis secara keseluruhan seperti riwayat pasien, pemeriksaan fisik, atau gejala subjektif.

  • Ini bisa membuat AI “benar secara teknis”, tapi “salah secara klinis”.

4. Isu Etika dan Legal

  • Siapa yang bertanggung jawab jika AI membuat kesalahan fatal? Radiolog? Rumah sakit? Pengembang AI?

  • Masalah privasi data pasien saat digunakan untuk melatih model AI.

5. Potensi Penggantian Tenaga Manusia

  • Muncul kekhawatiran AI dapat mengurangi kebutuhan akan radiolog di masa depan, menimbulkan resistensi dari tenaga profesional.

🔄 Pendekatan Ideal: Kolaborasi Manusia-AI

Sebagian besar pakar sepakat bahwa AI sebaiknya tidak menggantikan radiolog, tetapi digunakan sebagai alat bantu (second reader) untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi kerja. Kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan dianggap sebagai pendekatan paling aman dan etis.


Regulasi Pemeliharaan Alat Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2023


 

 

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2023 mengatur tentang pemeliharaan alat kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Peraturan ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan alat kesehatan yang memenuhi standar pelayanan, mutu, keamanan, manfaat, keselamatan, dan laik pakai guna mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu.

Ruang Lingkup Pemeliharaan

Pemeliharaan alat kesehatan meliputi kegiatan:

  • Inventarisasi

  • Pemeliharaan promotif

  • Pemantauan fungsi

  • Pemeliharaan preventif

  • Pemeliharaan korektif

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan alat kesehatan tetap berfungsi dengan baik dan aman digunakan.

Penyelenggara Pemeliharaan

Penyelenggara pemeliharaan alat kesehatan terdiri atas:

  • Unit pemeliharaan milik rumah sakit

  • Unit pemeliharaan milik pemerintah daerah

  • Unit pemeliharaan milik masyarakat/swasta

Unit pemeliharaan milik rumah sakit hanya melakukan pemeliharaan terhadap alat kesehatan di rumah sakit tersebut. Sedangkan unit milik pemerintah daerah dan masyarakat dapat melakukan pemeliharaan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Registrasi dan Sumber Daya Manusia

Unit pemeliharaan milik pemerintah daerah dan masyarakat wajib melakukan registrasi melalui aplikasi yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan. Setiap penyelenggara pemeliharaan harus memiliki sumber daya manusia dengan kemampuan di bidang pemeliharaan alat kesehatan, yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan dari lembaga terakreditasi.

Pedoman Pelaksanaan

Dalam melaksanakan pemeliharaan, penyelenggara harus mengacu pada Pedoman Penyelenggaraan Pemeliharaan Alat Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan ini.

Pencatatan dan Pelaporan

Penyelenggara wajib melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeliharaan, yang paling sedikit memuat:

  • Jenis alat kesehatan

  • Jumlah alat kesehatan

  • Kondisi alat kesehatan

Pembinaan dan Pengawasan

Menteri Kesehatan, Gubernur, dan Bupati/Wali Kota melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemeliharaan alat kesehatan sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengunduh dokumen resmi Permenkes No. 15 Tahun 2023 melalui tautan berikut:

PERMENKES No. 15 Tahun 2023



Teknologi Augmented Reality Membantu Tindakan Operasi

 

 

 

 

Teknologi Augmented Reality pada Operasi Kanker Otak. Quantum leap teknologi pada dunia kesehatan. Teknologi ini mungkin masuk ke Indonesia 5 tahun ke depan.
#augmentedreality 
#teknologikesehatan 
#teknologibiomedik 
#biomedicalengineering 
#quantumteknologi
#brainsurgery

 

Teknologi Augmented Reality pada Teknologi Kesehatan

 

 
 

 
Teknologi Augmented Reality pada Operasi Kanker Otak. Quantum leap teknologi pada dunia kesehatan. Teknologi ini mungkin masuk ke Indonesia 5 tahun ke depan.
#augmentedreality 
#teknologikesehatan 
#teknologibiomedik 
#biomedicalengineering 
#quantumteknologi
#brainsurgery

Membedakan OEM, Principle, Distributor, Agen Supplier, Vendor, Retail dan Third Party Pihak ke 3 Alat Kesehatan

 

Membedakan OEM, Principle, Distributor, Agen Supplier, Vendor, Retail dan Third Party Pihak ke 3.

Produsen, Original Equipment Manufacturer (OEM) didefinisikan sebagai perusahaan yang barangnya digunakan sebagai komponen dalam produk perusahaan lain, yang kemudian menjual barang jadi kepada pengguna. Asal usul istilah OEM berasal dari frasa Belanda, "Onder Eigen Merk" yang berarti "di bawah merek sendiri."

Perusahaan Principle "Utama" dapat memakai produk, suku cadang, dan komponen OEM sebagai milik mereka sendiri, setelah menandatangani dokumen penjualan kembali yang memberikan hak kepada perusahaan untuk menjual kembali produk OEM. Selain keuntungan finansial menjadi penyedia OEM, OEM mendapatkan publisitas gratis pada produk mereka (Contoh Ban Goodyear pada kendaraan Ford, Microchip Intel di komputer Dell dan Chip SnapDragon pada HP Anda)

Distributor adalah perusahaan perdagangan nasional yang mendapatkan hak eksklusif dari Principle berdasarkan perjanjian sebagai Distributor di Indonesia atau wilayah pemasaran tertentu. Ditemui juga Distributor Tunggal / satu-satunya. 

Secara umum, arti vendor adalah pihak (lembaga atau perorangan) yang menyediakan/ menjual bahan baku, bahan penolong, jasa, atau produk yang diolah atau dijual kembali oleh perusahaan lain untuk menunjang kinerja perusahaan tersebut. 

Adapun supplier adalah orang atau pelaku bisnis yang menyediakan barang atau bahan produk kepada perusahaan, untuk selanjutnya diolah atau didistribusikan kepada pelanggan melalui distributor atau vendor.

Kalau masih belum paham, silahkan lihat rantai pasokan (supply chain management) di bawah ini:
Pemasok atau supplier > Produsen > Distributor > Vendor > Pelanggan atau konsumen.
 
 
Vendor menjual produk dari distributornya dari waktu ke waktu kepada konsumen dalam jumlah kecil. Sementara supplier memasok jenis barang dan layanan tertentu ke produsen dalam jumlah besar.

Istilah ini memang terkadang membingungkan, sebab tidak sedikit pelaku usaha memainkan peran ganda, sebagai supplier dan juga vendor.

Berdasarkan definisinya Retail merupakan sebuah bisnis yang dijalankan dengan menjual produk eceran. Sedangkan retailer adalah istilah untuk menyebut orang atau perusahaan yang menjalankan bisnis ini untuk kemudian menjual produknya secara ecer dari tangan produsen utama atau distributor kepada konsumen akhir. Contoh toko alat kesehatan.
 



Pihak Ketiga adalah orang atau perusahaan yang ditunjuk untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi tidak ikut serta dalam perjanjian OEM-Distributor; jalur distribusi alat tersebut.

Hal tersebut perlu dipahami dikarenakan untuk mengetahui layanan Post Market suatu alat kesehatan. Dimana mulai diinstal dan digunakan sampai dengan garansi selesai, kita mengetahui dimana layanan garansi tersebut bisa diklaim. 

Bukan tidak mungkin keagenan kontrak penjualan distribusi alat kesehatan maupun kewenangan service berubah berpindah pada perusahaan yang lain, dimana juga terkadang tidak diketahui siapa perusahaan pemegang perjanjian keagenan yang baru. Dan hal tersebut sering terjadi. Hal tersebut sebenarnya bisa diketahui dari informasi dari Principle, siapa Distributor selanjutnya yang ditunjuk untuk menangani Support Pemeliharaan, Perbaikan, Ketersediaan Sparepart dan Klaim Garansi. 

Jika tidak ditemukan Informasi yang sesuai maka demi kecepatan dan ketepatan pelayanan, dimungkinkan untuk menunjuk Pihak Ketiga yang memiliki spesifikasi tenaga teknisi kompeten dan suku cadang sparepart yang dibutuhkan. Hal ini juga sering terjadi, disebabkan karena respon Post Marketing yang jelek dari Produsen atau Distributor produk alat kesehatan tersebut. 

Garansi Alat Kesehatan merupakan salah satu bentuk Produk Perlindungan Konsumen dari Produsen. Garansi jaminan mutu, daya tahan dan kehandalan operasional, tanggung jawab produk yang diterapkan. Pemberian garansi merupakan wujud pertanggungjawaban pelaku usaha kepada konsumen atas terjadinya kerusakan prematur suatu produk atau ketidakmampuan produk untuk melaksanakan fungsi yang diharapkan pada jangka waktu tertentu dan sebagai layanan purna jual kepada konsumen. 

Dengan layanan purna jual yang bagus maka komunikasi dan relasi dari user operator pengguna dan manajemen termasuk teknisi Elektromedis di Rumah Sakit dapat terjalin dengan baik. 

Maka sebenarnya kapasitas untuk Post Market After Sales berada pada Produsen Principle dan Distributor yang ditunjuk. 

Teknisi Principle dan Teknisi Distributor Resmi yang ditunjuk mempunyai hak eksklusif privilege pada support pelatihan khusus dan dukungan suku cadang yang terjamin. Sangat disayangkan apabila didapati After Sales Pelayanan Purna Jual langsung dari Produsen Principle dan Distributor Resmi tenaga teknisi tidak kompeten, responnya lamban dan ogah-ogahan. Kemana lagi konsumen harus menyampaikan. Tidak salah jika konsumen mencari pihak ketiga lain yang bisa membantu. 

Lingkup Layanan Purna antara lain :
-Jaminan mutu, daya tahan dan kehandalan operasional yang didalamnya termasuk pemeriksaan, perbaikan dan/atau penggantian produk atau komponennya tidak berfungsi baik selama garansi maupun setelah garansi;
-Dukungan training dan pelatihan 
-Pelayanan kunjungan Preventive Maintenance berkala selama masa Garansi
-Penyediaan dokumen informasi tidak terbatas pada identitas dan spesifikasi produk, Certificate Of Origin, manual prosedur, buku petunjuk, service manual, skema/diagram/gambar
-Ketersediaan pusat pelayanan purna jual (service center); Call Center Hotline  Service, Teknisi yang berkompeten untuk perbaikan dan pemeliharaan
-Ketersediaan suku cadang didalam lingkup pelayanan purna jual tersebut terkandung hak-hak konsumen, kewajiban dan tanggung jawab pelaku usaha.


Jika pelayanan purna jual pada masa garansi saja jelek, apalagi ketika masa garansi berakhir. Tentu kembali yang dirugikan konsumen termasuk harus mengeluarkan biaya tambahan yang percuma misal biaya onsight service setelah masa garansi habis ataupun menggunakan jasa pihak ketiga. 
Hal tersebut juga menjadi input evaluasi masukan bagi user dan manajemen bagi pengadaan peralatan kesehatan kedepannya dengan merk atau produsen yang sama.
#produsenalkes
#produsenalatkesehatan 
#alatkesehatan 
#alatkedokteran 
#alatelektromedis 
#manajemenrumahsakit 
#manajemenrs

Kelompok Alat Elektromedik

KEPUTUSAN KETUA UMUM IKATAN ELEKTROMEDIS INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2018
TENTANG KELOMPOK ALAT ELEKTROMEDIK

 



 


Kelompok alat Elektromedik berdasarkan klasifikasi fungsi yang terdiri dari :

a. Alat Elektromedik Bedah dan Anestesi;
b. Alat Elektromedik Diagnostik;
c. Alat Elektromedik Laboratorium;
d. Alat Elektromedik Life Support;
e. Alat Elektromedik Radiologi;
f. Alat Elektromedik Terapi; dan
g. Alat Elektromedik Disinfeksi dan Sterilisasi. 

Kelompok alat Elektromedik berdasarkan kualifikasi teknologi yaitu :

a. Alat Elektromedik teknologi sederhana;
b. Alat Elektromedik teknologi menengah; dan
c. Alat Elektromedik teknologi tinggi.

Kelompok alat Elektromedik digunakan sebagai acuan oleh tenaga Elektromedis dalam memberikan pelayanan Elektromedik.

KELOMPOK ALAT ELEKTROMEDIK


I. Alat Elektromedik Bedah dan Anestesi Teknologi Sederhana :

1. Head Lamp;
2. Operating Lamp Mobile;
3. Vaccuum Extractor.
4. Ceilling Column;
5. Bor tulang;
6. Gynecological Table electric;
7. Operating Table manual;
8. Warming cabinet;
9. Air Purifier; dan
10. Bor Tulang.


II. Alat Elektromedik Bedah dan Anestesi Teknologi Menengah :
1. Cold Light Source;
2. Colposcope;
3. Cryo Surgery;
4. Endoscopy/Fiberscope;
5. Operating Lamp Ceiling Type;
6. Gynecological Table electric (remote controlled);
7. Operating Table electric (remote controlled);
8. Hypo Hyphertermial blanket;
9. Lithotripter;
10. Bor mastoid;
11. Sternum Saw;
12. Pendant;
13. IABP (Intra Aortic Balloon Pump); dan
14. Tourniqet System.


III. Alat Elektromedik Bedah dan Anestesi Teknologi Tinggi :
1. Operating Microscope;
2. Anestesia dengan Ventilator;
3. Laser Coagulator;
4. Heart Lung Machine;
5. Laparoscopy Unit;
6. Harmonic Scalpel;
7. Phaeco emulsifikasi;
8. Vitrectomy;
9. Endoscopy Unit;
10. Electrosurgery Unit;
11. Laparoscopy Unit;
12. Ultrasound Surgery; dan
13. Phaco Emulsification.


IV. Alat Elektromedik Diagnostik Teknologi Sederhana :
1. Sphygmomanometer;
2. Amnioscope;
3. Baby Scale;
4. Body Weighting Scale;
5. Chamber Accoustic Test;
6. Examination Lamp;
7. Keratometer;
8. Laringoscope;
9. Lens Meter;
10. Opthalmoscope;
11. Otoscope;
12. Tonometer;
13. Echotonometer;
14. Uroflowmeter
15. OAE (Oto Acoustic Emission);
16. Vein Viewer; dan
17. Snellen.


V. Alat Elektromedik Diagnostik Teknologi Menengah :
1. Colon Meter;
2. Fetal Detector;
3. Spirometer;
4. Audiometer;
5. Dental Unit;
6. Arritmya Monitor;
7. Heart Rate Monitor;
8. NIBP Monitor;
9. PO2 Trancutaneus Monitor;
10. Projection Perimeter;
11. Respiration Monitor;
12. Refractometer;
13. Bedside Monitor;
14. Pulse Oxymeter;
15. Holter Monitor;
16. Photo Fundus;
17. Electro Cardio Graphy (ECG);
18. Cardiotocography (CTG);
19. Urodinamik;
20. BERA (Brainstem Evoked Response Audiometri); dan
21. Birilubin Meter Non Invasive.


VI. Alat Elektromedik Diagnostik Teknologi Tinggi :
1. Test Stress cardiopulmonary;
2. Ultra Sonography (USG);
3. Electro Enchepalography (EEG);
4. Barain Mapping;
5. Electro Myography (EMG);
6. USG Mata;
7. Electro Nystagmograph;
8. Bone Densitometer;
9. Vector Cardiograph;
10. Echo Cardiogoraph;
11. Phono Cardiograph;
12. Exercise Stress Test / Treadmil;
13. Autoref keratometer;
14. Computerize Tonometry;
15. Computerize opthalmoscope; dan
16. USCOM.


VII. Alat Elektromedik Laboratorium Klinik Teknologi Sederhana :
1. Microscope;
2. Centrifuge;
3. Analytical Balance;
4. Blood Solution Warmer;
5. Fume Hood;
6. Magnetic Stirer;
7. Water Destillator;
8. Glucometer;
9. pH Meter;
10. Protombin meter;
11. Ultrasonic Cleaner;
12. Laminary Air Flow;
13. Hot plate;
14. Cold plate;
15. Hot plate stirrer;
16. Baths, freezing;
17. Baths, tissue floatation;
18. Baths,wa ter;
19. Bilirubinometers;
20. Blood Cell Processors;
21. Carbon dioxide monitors, laboratory incubator;
22. Centrifuge;
23. Chambers, anaerobic;
24. Clippers;
25. Concentra tors,specimen;
26. Densitometres, laboratory;
27. Diluters;
28. Dispenser, Parafin;
29. Dissectors;
30. Distilling Unit;
31. Dryers;
32. Dryers, Slide;
33. Evaporators;
34. Extractors, Plasma;
35. Fluorometres;
36. Hot Plates;
37. Incinerators, pathology;
38. Incubators, laboratory;
39. Insufflators;
40. Loupes;
41. Mixers,Blood Tube;
42. Mixers, Clinical Laboratory;
43. pH Meters;
44. Pipetters;
45. Pumps, Laboratory;
46. Rota tors;
47. Scale, Clinical, Laboratory;
48. Sedimentation rate units;
49. Shaker, Laboratory;
50. Sharpeners, microtome knife;
51. Slide Stainers;
52. Specimen cutters;
53. Stirres;
54. Synoptophores;
55. Timers, Coagulation;
56. Ureterotomes;
57. Washer;
8. Water Bath circulators; dan
59. Water Purification system, Ultraviolet.


VIII. Alat Elektromedik Laboratorium Klinik Teknologi Menengah :
1. Fluroscent Mikroskop;
2. Refrigerated Centrifuge;
3. Laboratory Refrigerator;
4. Mortuary Refrigerator;
5. Table Top Steam Sterilizer;
6. Laboratory Incubator;
7. Ultrasonic Cleaner;
8. Water bath laboratory
9. Microtitration;
10. Precison Balance;
11. Fluoroscent Microscope;
12. Spectrophotometer;
13. Microtome;
14. Oxymeter;
15. Analyzers, Laboratory, Blood gas/pH;
16. Analyzers, Laboratory, Blood, Urea nitrogen;
17. Analyzers, Laboratory,body fluids;
18. Analyzers, Laboratory,hematology;
19. Analyzers, Laboratory,Clinical Chemistry;
20. Analyzers, Laboratory,immunoassay;
21. Analyzers, point of -care, whole blood;
22. Homogenizers, tissue;
23. Microtomes;
24. Osmometres;
25. Spectrophotometres;
26. Tissue embedding equipment;
27. Microscopes, light, laboratory;
28. Urodynamic measurement systems;
29. Titrators; dan
30. Refractometers, Laboratory


IX. Alat Elektromedik Laboratorium Klinik Teknologi Tinggi :
1. Aquadestillator App;
2. Urine Analyzer;
3. Blood gas Analyzer;
4. Laboratory Auto Analyzer;
5. Freezing Microtome;
6. Tissue processor;
7. Analyzers, laboratory, microbiology;
8. Analyzers, laboratory,radioimmunoasay;
9. Chromathograpy System;
10. Cytometer;
11. Dna Squencing system;
12. Iontophoresis,Sweat test;
13. Microscope, electron;
14. Synthesizer, DNA/RNA;
15. Tissue Processor;
16. Spectrometers, mass, laboratory;
17. Analyzer, Laboratory, Breath;
18. Analyzer, Laboratory, Semen;
19. Analyzer, Laboratory,Urine;
20. Spectrofluorometers;
21. Separators, plasma;
22. Viscosimetres, plasma;
23. Nephelometres;
24. Electrophoresis system;
25. Counters, Scintillation; dan
26. Counters, colony.


X. Alat Elektromedik Life Support Teknologi Sederhana :
1. Suction Pump;
2. Anti Decubitus Matras;
3. Cardiac Resusitator;
4. Oxygen Monitor; dan
5. Bubble CPAP.


XI. Alat Elektromedik Life Support Teknologi Menengah :
1. Infusion Pump;
2. Syringe Pump;
3. Baby Incubator;
4. Cardiac Resusitator;
5. Defibrillator;
6. Infant Warmer;
7. Electronic N-CPAP;
8. AED; dan
9. Pacemaker.


XII. Alat Elektromedik Life Support Teknologi Tinggi :
1. Haemodialisa;
2. Ventilator;
3. IABP;
4. Central Monitor;
5. Pasien monitor; dan
6. CRRT.


XIII. Alat Elektromedik Radiologi Teknologi Sederhana :
1. Film Dryer;
2. Film Viewer;
3. Contrast Injector
4. Dental X-Ray;
5. Densitometres;
6. Densitometres, bone, X-ray, Dual-energy absorptiometry;
7. Densitometres, X-ray film;
8. Dosimetres, Radiation;
9. Mixers, Xray film chemistry;
10. Radiation monitors;
11. Sensitometres, radiographic;
12. X-ray film duplicators;
13. X-ray QA test cassette; dan
14. X-ray film processors.


XIV. Alat Elektromedik Radiologi Teknologi Menengah :
1. Automatic Processing Film;
2. Basic X-ray Unit;
3. Panoramic Dental X-Ray;
4. X-ray Mobile Unit;
5. Laser Imagers;
6. Radiation survey metres, Geiger-Muller;
7. Radiation survey metres,ionization chamers;
8. Radiographic system, film;
9. Radiographic units, chest;
10. Radiographic units,dental;
11. Radiographic units, dental intraoral;
12. Radiographic units,mobile;
13. Scanner, ultrasound; dan
14. X-ray film handling equipment, automatic, daylight.


XV. Alat Elektromedik Radiologi Teknologi Tinggi :
1. ESWL;
2. MRI;
3. Thiroid Up Take;
4. X-ray Simulator;
5. CATHLAB;
6. CT Scanner;
7. LINAC;
8. Gamma Camera / Telegama Cobalt 60;
9. Mammography X-ray Unit;
10. After Loading;
11. Tomography Unit;
12. Urology X-ray Unit;
13. Surgical X-Ray Unit / C-Arm Mobile;
14. General Diagnostic X-ray;
15. C-ARM;
16. Condenser Discharge x_ray Diagnostic;
17. PET-Scan;
18. DR (Digital Radiography);
19. CT Simulator;
20. CR (Computerize Radiography);
21. Calibrators, radiosotope;
22. Computers, radiotherapy palnning system;
23. Counters, gamma;
24. Injectors,contrast media, magnetic resonance imagine;
25. Linear accelators;
26. Radiographic system, digital;
27. Radiographic units, mamographic;
28. Radiographic/fluoroscopic system, angiographic/interventional ;
29. Radiographic/fluoroscopic system,cardiovascular;
30. Radiographic/fluoroscopic system,general-purpose;
31. Radiographic/fluoroscopicunits, mobile;
32. Radiographic/tomographic system, linear;
33. Radiotherapy units, cobalt;
34. Radiotherapy units,orthovoltage;
35. Scanning system,computed tomography; dan
36. Scanning system, magnetic resonance imaging, full-body.


XVI. Alat Elektromedik Terapi Teknologi Sederhana :
1. Parafin Bath;
2. Bath Wirl Pool;
3. Blue Light;
4. ENT Treatment;
5. Exercise Bycicle;
6. Hydro Therapy;
7. Ultra Violet lamp;
8. Infra Red Lamp;
9. Traction; dan
10. Treadmill.


XVII. Alat Elektromedik Terapi Teknologi Menengah :
1. Compression Therapy;
2. Hydrotubator;
3. Microwaves Diathermy;
4. Shortwave Diathermy; dan
5. Ultrasound Therapy.


XVIII. Alat Elektromedik Terapi Teknologi Tinggi :
1. Prostra ton;
2. Hyperbaric Chamber;
3. Contact Teraphy; dan
4. ECT.


XIX. Alat Elektromedik Disinfeksi dan Sterilisasi :
1. UV Sterilizer; dan
2. Ultrasonic Cleaner;
3. Autoclave
4. Instrument Washing Machine;
5. Programmable Sterilizer;
6. Sterilisator basah; dan
7. Gas sterilizer.

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner