Home » , » Pemberitahuan Regulasi Tenaga Elektromedis - IKATEMI

Pemberitahuan Regulasi Tenaga Elektromedis - IKATEMI



IKATAN ELEKTROMEDIS INDONESIA
 DEWAN PENGURUS PUSAT

Sekretariat:   Kampus Teknik Elektromedik,   
Jl.  Hang Jebat    III Blok  F3,  Kebayoran Baru, Jakarta   Selatan,  12120
Tel.  021  7243687  Fax.  021  7261723

  _________________________________________________________________________

Nomor : 150/I/DPP- IKATEMI/X/2015

Lampiran :1 (satu) berkas

Perihal :Pemberitahuan   regulasi  tenaga  elektromedis


Jakarta,  20 Oktober  2015


Kepada  Yth:

1.    Gubernur  seluruh  Indonesia
2.    Bupati/Walikota   seluruh  Indonesia
3.    Kepala Dinas Kesehatan  Provinsi  seluruh  Indonesia
4.    Kepala Dinas  Kesehatan  Kabupaten/Kota   seluruh  Indonesia
5.    Direktur  Rumah  Sakit seluruh  Indonesia
6.    Kepala  Balai Pengamanan   Fasilitas  Kesehatan  seluruh  Indonesia
7.    Kepala  Loka Pengamanan   Fasilitas  Kesehatan  seluruh  Indonesia
8.    Pimpinan  Institusi  Pengujian  Alat Kesehatan  seluruh  Indonesia
9.    Pimpinan  perusahaan  alat kesehatan  seluruh  Indonesia


Di tempat



Ikatan  Elektromedis    Indonesia   disingkat   IKATEMI   adalah   organisasi   profesi  elektromedis   yang mewadahi  para tenaga  profesional  dalam pengelolaan  peralatan  elektromedik   pada fasilitas  kesehatan dan  juga   perusahaan    penyalur    peralatan    kesehatan.    IKATEMI   adalah organisasi   profesi   yang memiliki  kelengkapan:

1.    Anggaran  Dasar  terakhir  disahkan  pada Musyawarah  Nasional  VI tahun  2013 melalui  Ketetapan Munas nomor  TAP/MUNAS  VI/VIIIIIKATEMI/2013.
2.    Anggaran  Rumah  Tangga  terakhir  disahkan  pada  Musyawarah   Nasional  VI tahun  2013  melalui Ketetapan  Munas  nomor  TAP/MUNAS  VI/IX/IKATEMII2013.
3.    Akte  pendirian  berdasarkan   Akte  Notaris  Sofjan  Junus,  SH nomor  11 tanggal  14 Agustus  1998 sebagaimana  telah  diubah  terakhir  dengan  Akte Notaris  Mansur  Ishak,  SH nomor  54 tanggal  25 Juni 2015
4.    Badan   hukum   berdasarkan    Keputusan    Menteri   Hukum   dan   Hak   Asasi   Manusia   Republik Indonesia  nomor  AHU-0001730.AH.01.07.TAHUN      2015  tentang  Pengesahan   Pendirian  Badan Hukum  Perkumpulan   Ikatan  Elektromedis   Indonesia


Tanggung jawab profesi elektromedis adalah menjamin terselenggaranya  pelayanan kesehatan khususnya  kelayakan   siap  pakai  peralatan   elektromedik   dengan  tingkat  keakurasian   dan  keamanan serta mutu  yang  standar,  sebagaimana   tertulis  pada  Pasal  14 ayat  (1) Peraturan   Menteri  Kesehatan Republik  Indonesia  nomor  45  tahun  2015  tentang  Izin  dan Penyelenggaraan    Praktik  Elektromedis (Berita Negara  Republik  Indonesia  tahun 2015 Nomor  979).


Tenaga elektromedis  memiliki  kompetensi  dan ruang lingkup tertentu  sebagaimana  dinyatakan  dalam Keputusan  Menteri  Kesehatan   RI  nomor  371/Menkes/SKlIII/2007 tentang  Standar  Profesi  Teknisi Elektromedis   dan  berhak  menjalankan   kewenangan   sebagai  tenaga elektromedis   berdasarkan   Pasal 12 Peraturan  Menteri  Kesehatan  Republik  Indonesia  nomor 45 tahun 2015.

Sehubungan     dengan    telah    diundangkannya     Permenkes     Nomor    45    tahun    2015    kami menyampaikan  beberapa  hal sebagai berikut:

1.    Setiap   tenaga   elektromedis    dalam   melaksanakan    praktiknya    wajib   memiliki    Surat   Tanda Registrasi  Elektromedis   (STR-E)   sesuai  Pasal  2  Permenkes   Nomor   46/Menkes/Per/VIIII/2013 tentang Registrasi  Tenaga  Kesehatan,  Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) Permenkes  Nomor  45 tahun 2015.
2.    Setiap  tenaga  elektromedis   dalam  melaksanakan   praktiknya   wajib  memiliki   Surat  Izin Praktik Elektromedis  (SIP-E)  Pasa16  ayat (1) Permenkes  Nomor 45 tahun 2015.
3.    Kualifikasi  minimum  tenaga  elektromedis  adalah Diploma  3 Teknik  Elektromedik   sesuai Pasal 9 Undang  Undang   Nomor   36  tahun  2014  tentang   Tenaga   Kesehatan   dan  Pasal  3  Permenkes Nomor 45 tahun 2015.
4.    Pengusulan  penerbitan   STR-E  dilakukan  melalui  Pengurus  Daerah  maupun  Cabang  IKATEMI sesuai Provinsi  ataupun  Kabupateni/Kota   domisili  institusi.
5.    Pengusulan   penerbitan    SIP-E   ditujukan   kepada   Pemerintah   Daerah   KabupateniKota    sesuai domisili  institusi  atas rekomendasi  pengurus  IKATEMI.


Demikian  informasi  ini kami  sampaikan,  atas perhatian  dan kerjasamanya   kami ucapkan  terima kasih.


Ketua Umum,

ttd

Agus Komarudin, ST, MT




Tembusan  kepada  yth:

1.    Menteri Kesehatan  Republik  Indonesia
2.    Sekretaris  Jenderal  Kementerian  Kesehatan  RI
3.    Direktur Jenderal  Bina Upaya  Kesehatan  Kemenkes  RI
4.    Kepala Badan PPSDMKes  Kemenkes  RI
5.    Kepala Biro Hukum  dan Organisasi  Kemenkes  RI
6.    Direktur  Bina Pelayanan  Keperawatan  dan Keteknisian  Medik Kemenkes  RI
7.    Direktur Bina Pelayanan  Penunjang  Medik dan Sarana Kesehatan  Kemenkes  RI
8.    Kepala Pusat Standardisasi,   Sertifikasi  dan Pendidikan  Lanjut Kemenkes  RI
9.    Ketua Umum  Pengurus  Pusat Gabungan  Pengusaha  Alat Kesehatan  dan Laboratorium  Indonesia





Lampiran  Surat Nomor : 150/I/DPP- IKATEMI/X/2015



Undang  Undang  dan Peraturan  terkait  tenaga  elektromedis.

I.   Undang  Undang  No. 36 tahun 2009 tentang  Kesehatan

Pasal 22
(1)  Tenaga kesehatan  harus memiliki  kualifikasi  minimum.
(2)  Ketentuan   mengenai   kualifikasi    minimum   sebagaimana    dimaksud   pada   ayat  (1)  diatur dengan Peraturan  Menteri.

Pasal 23
(1)  Tenaga  kesehatan  berwenang  untuk menyelenggarakan   pelayanan  kesehatan.
(2)  Kewenangan   untuk  menyelenggarakan    pelayanan   kesehatan   sebagaimana   dimaksud   pada ayat (1) dilakukan  sesuai  dengan bidang  keahlian  yang dimiliki.
(3)  Dalam  menyelenggarakan    pelayanan  kesehatan,  tenaga  kesehatan   wajib  memiliki  izin  dari pemerintah.
(4) Selama memberikan  pelayanan  kesehatan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) dilarang mengutamakan   kepentingan  yang bernilai  materi.
(5)  Ketentuan  mengenai  perizinan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat (3) diatur  dalam  Peraturan
Menteri.


II.   Undang  Undang  No. 44 tahun 2009 tentang  Rumah  Sakit


Pasal  13
(2)  Tenaga  kesehatan  tertentu  yang  bekerja  di Rumah  Sakit  wajib  memiliki  izin  sesuai  dengan ketentuan  peraturan  perundang-undangan.
(3)   Setiap  tenaga  kesehatan  yang  bekerja  di Rumah  Sakit  harus  bekerja  sesuai  dengan  standar profesi,  standar  pelayanan   Rumah  Sakit,  standar  prosedur  operasional   yang  berlaku,  etika profesi,  menghormati   hak pasien  dan mengutamakan   keselamatan  pasien.
(4)  Ketentuan  mengenai  tenaga  medis  dan  tenaga  kesehatan   sebagaimana   dimaksud  pada  ayat
(l)  dan ayat (2) dilaksanakan   sesuai dengan  ketentuan  peraturan  perundang -undangan.

Pasal  16
(1)   Persyaratan   peralatan   sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal   7  ayat  (1)  meliputi   peralatan medis   dan  nonmedis   harus   memenuhi   standar   pelayanan,   persyaratan    mutu,   keamanan, keselamatan  dan laik pakai.
(2)  Peralatan   medis   sebagaimana   dimaksud   pada  ayat  (l)   harus  diuji  dan  dikalibrasi   secara berkala   oleh   Balai   Pengujian    Fasilitas   Kesehatan    dan/atau   institusi   pengujian   fasilitas kesehatan  yang berwenang.
(5)  Pengoperasian   dan pemeliharaan   peralatan  Rumah  Sakit harus  dilakukan  oleh petugas  yang mempunyai  kompetensi  di bidangnya.
(7)  Ketentuan   mengenai   pengujian   danlatau  kalibrasi  peralatan   medis,  standar  yang  berkaitan dengan   keamanan,    mutu,   dan  manfaat   dilaksanakan    sesuai   dengan   ketentuan   peraturan perundang -undangan.

Pasal 17
Rumah  Sakit yang tidak memenuhi  persyaratan  sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal9,   Pasal  10, Pasal ll,     Pasal l2,    Pasal 13,   Pasal 14,   Pasal 15,   dan Pasal 16   tidak diberikan izin mendirikan,  dicabut  atau tidak diperpanjang  izin operasional  Rumah  Sakit

III.  Undang  Undang  No. 36 tahun 2014 tentang  Tenaga  Kesehatan

Pasal 8
Tenaga di bidang  kesehatan  terdiri  atas:
a.    Tenaga  Kesehatan;  dan
b.    Asisten  Tenaga  Kesehatan.   ~

Pasal 9
(1)  Tenaga  Kesehatan   sebagaimana   dimaksud  dalam  Pasal  8 huruf  a harus  memiliki  kualifikasi minimum  Diploma  Tiga, kecuali  tenaga  medis.
(2)  Ketentuan   lebih   lanjut   mengenai   kualifikasi   minimum   Tenaga   Kesehatan    sebagaimana
dimaksud  pada ayat (1) diatur dengan  Peraturan  Menteri.

Pasal  11
(1)  Tenaga  Kesehatan  dikelompokkan   ke dalam:
k.    tenaga  teknik  biomedika;
(12) Jenis    Tenaga    Kesehatan    yang   termasuk    dalam    kelompok    tenaga    teknik    biomedika sebagaimana   dimaksud   pada  ayat  (1)  huruf  k  terdiri  atas  radiografer,   elektromedis,   ahli teknologi  laboratorium   medik,  fisikawan  medik,  radioterapis,   dan ortotik prostetik.

Pasal  17
(2)  Pengadaan  Tenaga  Kesehatan  dilakukan  melalui  pendidikan  tinggi  bidang  kesehatan.

Pasal 44
(1)   Setiap Tenaga  Kesehatan  yang menjalankan  praktik  wajib memiliki  STR.
(2)   STR  sebagaimana   dimaksud   pada  ayat  (  1) diberikan   oleh  konsil  masing-masing   Tenaga
Kesehatan  setelah  memenuhi  persyaratan.
(3)  Persyaratan  sebagaimana   dimaksud  pada ayat (2) meliputi:
a.    memiliki  ijazah pendidikan  di bidang kesehatan;
b.    memiliki  Sertifikat  Kompetensi  atau Sertifikat  Profesi;
c.    memiliki  surat keterangan  sehat fisik dan mental;
d.    memiliki  surat pernyataan  telah mengucapkan   sumpah/janji  profesi;  dan
e.    membuat  pernyataan  mematuhi  dan melaksanakan   ketentuan  etika profesi.

Pasal 46
(1)   Setiap  Tenaga  Kesehatan   yang  menjalankan   praktik  di bidang  pelayanan   kesehatan  wajib memiliki  izin.
(2)  Izin sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) diberikan  dalam bentuk  SIP.
(3)   SIP sebagaimana   dimaksud  pada  ayat (2) diberikan  oleh  pemerintah   daerah  kabupatenlkota atas  rekomendasi   pejabat   kesehatan   yang  berwenang   di  kabupaten   kota  tempat   Tenaga Kesehatan  menjalankan   praktiknya.
(4)  Untuk  mendapatkan    SIP  sebagairnana   dimaksud   pada  ayat  (2),  Tenaga   Kesehatan   harus memiliki;
a.     STR yang masih  berlaku;
b.    rekomendasi   dari Organisasi  Profesi;  dan c.    tempat  praktik.
(5)   SIP  sebagaimana   dimaksud   pada  ayat  (2)  masing-masing    berlaku   hanya   untuk   1 (satu)
tempat
(6)   SIP masih berlaku  sepanjang:
a.       STR masih  berlaku;  dan
b.       tempat  praktik  masih tercantum  dalam  SIP.
(7)  Ketentuan  lebih  lanjut  sesuai  dengan  yang mengenai  perizinan  sebagaimana   dimaksud  pada ayat ( 1) diatur  dengan  Peraturan  Menteri.

Pasal 50
(1)  Tenaga  Kesehatan  harus  membentuk   Organisasi  Profesi  sebagai  wadah  untuk meningkatkan danlatau    mengembangkan     pengetahuan    dan   keterampilan,    martabat,    dan   etika   profesi T enaga Kesehatan.
(2)   Setiap jenis  Tenaga  Kesehatan  hanya dapat membentuk   1 (satu) Organisasi  Profesi.
(3)  Pembentukan   Organisasi   Profesi  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat  (1) dilaksanakan   sesuai dengan ketentuan  Peraturan  Perundang-undangan.     ~

Pasal62
(1)  Tenaga  Kesehatan   dalam  menjalankan   praktik  harus  dilakukan   sesuai  dengan  kewenangan yang didasarkan  pada Kompetensi  yang dimilikinya.
(2)  Jenis  Tenaga  Kesehatan  tertentu  yang memiliki  lebih dari satu jenjang  pendidikan  memiliki
kewenangan  profesi  sesuai dengan  Iingkup  dan tingkat  Kompetensi.
(3)  Ketentuan  lebih  lanjut  mengenai  kewenangan  profesi  sebagaimana   dimaksud  pada ayat ( 1)
diatur dengan  Peraturan  Menteri.

Pasal 64
Setiap  orang  yang  bukan   Tenaga  Kesehatan   dilarang   melakukan   praktik   seolah-olah   sebagai
Tenaga Kesehatan  yang telah memiliki  izin.

Pasal 66
(1)   Setiap Tenaga  Kesehatan  dalam menjalankan  praktik  berkewajiban   untuk mematuhi  Standar
Profesi,  Standar  Pelayanan  Profesi,  dan Standar  Prosedur  Operasional.
(2)   Standar  Profesi  dan  Standar  Pelayanan  Profesi  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat (1) untuk masing-masing   jenis  Tenaga  Kesehatan  ditetapkan  oleh organisasi  profesi  bidang  kesehatan dan disahkan  oleh Menteri.
(3)   Standar  Pelayanan  Profesi  yang berlaku  universal  ditetapkan  dengan  Peraturan  Menteri.
(4)   Standar  Prosedur  Operasional   sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) ditetapkan  oleh Fasilitas
Pelayanan  Kesehatan.
(5)  Ketentuan  lebih  lanjut mengenai  penerapan  Standar  Profesi,  Standar  Pelayanan  Profesi,  dan
Standar Prosedur  Operasicnal  diatur dengan  Peraturan  Menteri.

Pasal 74
Pimpinan   Fasilitas   Pelayanan   Kesehatan   dilarang   mengizinkan   Tenaga   Kesehatan   yang  tidak memiliki  STR dan izin untuk menjalankan  praktik  di Fasilitas  pelayanan  Kesehatan.

Pasal 75
Tenaga  Kesehatan   dalam  menjalankan   praktik  berhak  mendapatkan   pelindungan   hukum  sesuai dengan ketentuan  Peraturan  Perundang-undangan.

Pasal 82
(1)   Setiap  Tenaga  Kesehatan   yang  tidak  melaksanakan   ketentuan   Pasal  47,  Pasal  52 ayat  (1), Pasal  54 ayat  (1), Pasal  58 ayat  (I), Pasal  59 ayat  (1), Pasal  62 ayat  (1), Pasal  66 ayat  (1), Pasal68   ayat (1), Pasal  70 ayat (1), Pasal 70 ayat (2), Pasal 70 ayat (3) dan Pasal 73 ayat (1) dikenai  sanksi administratif.
(2)   Setiap Fasilitas  Pelayanan  Kesehatan  yang tidak  melaksanakan   ketentuan  Pasal  26 ayat (2),
Pasal53   ayat (1), Pasal  70 ayat (4), dan Pasal 74 dikenai  sanksi administratif.
(3)  Pemerintah,    pemerintah    daerah   provinsi,   dan  pemerintah    daerah   kabupaten/kota    sesuai dengan   kewenangannya    memberikan   sanksi  administratif   kepada   Tenaga   Kesehatan   dan Fasilitas  Pelayanan  Kesehatan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) dan ayat (2).
(4)   Sanksi administratif   sebagaimana  dimaksud  pada ayat (3) dapat berupa:
a.    teguran  lisan;
b.    peringatan  tertulis;
c.    denda adminstratif;   danlatau d.    pencabutan  izin.
(5)  Tata   cara   pengenaan     sanksi   administratif    terhadap    Tenaga    Kesehatan    dan   Fasilitas
Pelayanan  Kesehatan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (3) dan ayat (4)     diatur   dengan Peraturan  Pemerintah.

Pasal 83
Setiap  orang  yang  bukan   Tenaga   Kesehatan   melakukan   praktik   seolah-olah   sebagai   Tenaga Kesehatan   yang  telah  memiliki   izin  sebagaimana    dimaksud   dalam  Pasal  64  dipidana   dengan pidana penjara  paling  lama  5 (lima) tahun.   ~

Pasal 85
(1)   Setiap  Tenaga  Kesehatan   yang  dengan  sengaja  menjalankan   praktik  tanpa  memiliki   STR sebagaimana    dimaksud   dalam   Pasal   44  ayat  (1)  dipidana   dengan   pidana   denda  paling banyak Rp 100.000.000,00   (seratus juta rupiah).
(2)   Setiap  Tenaga  Kesehatan   warga  negara  asing  yang  dengan  sengaja  memberikan   pelayanan
kesehatan  tanpa  memiliki   STR  Sementara  sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal  55 ayat  (1)
dipidana  dengan  pidana  denda paling  banyak  Rp 100.000.000,00  (seratus juta  rupiah).

Pasal 86
(1)   Setiap   Tenaga   Kesehatan   yang   menjalankan    praktik   tarrpa   memiliki   izin   sebagaimana dimaksud    dalam    Pasal    46   ayat   (1)   dipidana    dengan    pidana    denda   paling    banyak Rp 100.000,000,00   (seratus juta  rupiah).
(2)   Setiap  Tenaga  Kesehatan   warga  negara  asing  yang  dengan  sengaja  memberikan   pelayanan
kesehatan   tanpa  memiliki   SIP  sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal  55  ayat  (1)  dipidana dengan pidana  denda paling  banyak  Rp 100.000.000,00   (seratus juta  rupiah).

Pasal 87
(1)  Bukti   Registrasi    dan   penzman    Tenaga   Kesehatan    yang   telah   dimiliki    oleh   Tenaga Kesehatan,    pada   saat   berlakunya   Undang-Undang    ini,  dinyatakan   masih   tetap   berlaku sampai habis masa berlakunya.
(2)  Tenaga  Kesehatan  yang  belum  memiliki  bukti Registrasi  dan perizinan  wajib  menyesuaikan dengan  ketentuan  Undang-Undang   ini paling  lama  2 (dua)  tahun  sejak  Undang-Undang   ini
diundangkan.


IV.  Peraturan  Menteri  Kesehatan  RI No. 46 tahun 2013 tentang  Registrasi  Tenaga  Kesehatan

Pasal 2
(1)   Setiap Tenaga  Kesehatan  yang akan menjalankan  praktik  danlatau  pekerjaan  keprofesiannya wajib memiliki  izin dari Pemerintah.
(2)  Untuk  memperoleh   izin  dari  Pemerintah   sebagaimana   dimaksud   pada  ayat  (1) diperlukan
STR.

Pasal 8
(1)  Tenaga  Kesehatan   Warga  Negara  Asing  atau  Tenaga  Kesehatan   Warga  Negara  Indonesia Lulusan  Luar  Negeri  yang  akan  melakukan   pekerjaan  profesi  atau  vokasinya   di Indonesia harus    memiliki     Sertifikat     Kompetensi     atau    pengakuan     kompetensi     dari    institusi pendidikannya   yang dilegalisasi  oleh pejabat  yang berwenang  dari negara  asal.
(2)  Tenaga  kesehatan   sebagaimana   dimaksud  pada  ayat  (1)  harus  dievaluasi   sesuai  ketentuan
peraturan  perundang  undangan.
(3)  Dalam pelaksanaan   evaluasi  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (2) dapat dilakukan  adaptasi. (4)  Tenaga   kesehatan    sebagaimana    dimaksud    pada   ayat   (1)   harus   memiliki    STR   sesuai
ketentuan  dalam Peraturan  Menteri  ini.

Pasal 30
(1)  Tenaga  Kesehatan   yang  telah  memiliki   surat  izin/S TR  danl atau  surat  izin  kerj aIsurat izin praktik   berdasarkan    peraturan   perundang-undangan     yang  ada  dinyatakan   telah  memiliki STR sampai  dengan  masa berlakunya  berakhir.
(2)  Tenaga  kesehatan   yang  pada  saat berlakunya   Peraturan  Menteri  ini belum  diatur  ketentuan mengenai   STR  danlatau   surat  izin  kerjalsurat   izin  praktiknya,   kepadanya   diberikan   STR berdasarkan  Peraturan  Menteri  ini.
(3)  Tenaga  kesehatan   yang  belum  memiliki   surat  izin STR  dan atau  surat  izin  kerja/surat   izin praktik  yang telah lulus ujian program  pendidikan  sebelum  diberlakukannya   Uji Kompetensi sesuai  ketentuan   peraturan   perundang-undangan,     kepadanya   diberikan   STR  berdasarkan Peraturan  Menteri  ini. 


V. Peraturan     Menteri    Kesehatan    RI  No.  45  tahun   2015  tentang    Izin  dan  Penyelenggaraan Praktik   Elektromedis

Pasal l
Dalam Peraturan  Menteri  ini yang dimaksud  dengan:
1.    Elektromedis   adalah  setiap  orang  yang  telah  lulus  dari  pendidikan   Teknik  Elektromedik sesuai dengan  ketentuan  peraturan  perundang-undangan

Pasal 3
Kualifikasi  elektromedis  ditentukan  berdasarkan  pendidikan  yang terdiri  atas:
a.  diploma tiga sebagai  Ahli Madya Teknik Elektromedik;   dan
b.  diploma  empat  sebagai  Sarjana Terapan  Teknik Elektromedik.

Pasal 4
(1) Elektromedis .dan Elektromedis  warga negara Indonesia lulusan luar negeri untuk dapat menyelenggarakan    atau menjalankan  praktiknya  harus memiliki  STR-E.
(2)   STR-E sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) berlaku  selama 5 (lima) tahun.
(3)  STR-E  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat  (1) diperoleh  sesuai  dengan  ketentuan  peraturan perundang -undangan.
(4)  STR-E  bagi  warga  negara  Indonesia  lulusan  luar  negeri  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat (1) diperoleh  melalui  evaluasi  kompetensi  meliputi  penilaian  kelengkapan   administrasi  dan penilaian    kemampuan    untuk   melakukan    praktik   sesuai   dengan   peraturan    perundang- undangan.

Pasal 5
(1)  Elektromedis    warga    negara    asing   untuk   dapat   menyelenggarakan     atau   menjalankan praktiknya  harus memiliki  STR-E sementara.
(2)   STR-E  sementara  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat  (1) berlaku  selama  1 (satu)  tahun  dan dapat diperpanjang  hanya untuk  1 (satu) tahun berikutnya.
(3)  STR-E   sementara    sebagaimana    dimaksud    pada   ayat   (1)   diperoleh    melalui    evaluasi
kompetensi   meliputi  penilaian  kelengkapan   administrasi   dan  penilaian   kemampuan   untuk melakukan  praktik  sesuai dengan peraturan  perundang-undangan.

Pasal 6
(1) Elektromedis   dan  Elektromedis   warga  negara  Indonesia  lulusan  luar  negeri  yang menyelenggarakan    atau menjalankan  praktik  di bidang  pelayanan  kesehatan  wajib memiliki SIP-E.
(2)  SIP-E  sebagaimana   yang  dimaksud   ayat  (1)  diberikan   kepada   Elektromedis   yang  telah memiliki  STR-E.
(3)  SIP-E    sebagaimana     yang    dimaksud    ayat    (1)   dikeluarkan     oleh   pemerintah     daerah kabupatenlkota.

Pasal 7
(1)  Elektromedis  hanya dapat memiliki  1 (satu) SIP-E.
(2)  SIP-E sebagaimana  yang dimaksud  ayat (1) hanya berlaku  untuk  1 (satu) tempat  praktik.

Pasal 8

(1)  Untuk   memperoleh    SIP-E   sebagaiman    dimaksud    dalam   Pasal   7  Elektromedis    harus mengajukan  permohonan  kepada pemerintah  daerah kabupatenlkota   dengan  melampirkan:
a.    fotokopi  ijazah yang dilegalisir;
b.    fotokopi  STR-E atau STR-E sementara;
e.    surat keterangan  sehat dari dokter yang mempunyai  surat izin praktik;
d.        surat keterangan  bekerja  dari fasilitas pelayanan  kesehatan  atau fasilitas  kesehatan  yang bersangkutan;
e.    pasfoto  berwama  terbaru  ukuran 4x6 em berlatar belakang  merah;   ~
f.    rekomendasi   dari  kepala  dinas  kesehatan   kabupatenlkota    atau  pejabat  yang  ditunjuk;
dan
 g.    rekomendasi   dari organisasi  profesi.

Pasal  11
Elektromedis   yang  memiliki   SIP-E dapat  melakukan  pelayanan  di fasilitas  pelayanan  kesehatan atau fasilitas  kesehatan.

Pasal 12

(1)  Elektromedis  dalam menyelenggarakan   atau menjalankan  praktik  berwenang:
a.    mengoperasikan    alat  elektromedik   dalam  rangka  pemeliharaan,    perbaikan,   pengujian dan kalibrasi;
b.    melakukan  pemeliharaan   alat elektromedik,  pengujian  dan kalibrasi;
c.    melakukan  pemantauan  fungsi  alat elektromedik;
d.    menganalisis   kerusakan  dan perbaikan  alat elektromedik;
e.    melakukan  inspeksi  unjuk kerja alat elektromedik,  pengujian  dan kalibrasi;
f.     melakukan  inspeksi  keamanan  alat elektromedik,  pengujian  dan kalibrasi;
g.    melakukan  pengujian  laik pakai  alat elektromedik,   pengujian  dan kalibrasi;
h.    melakukan  pengujian  dan kalibrasi  alat elektromedik;
1.       melakukan  penyuluhan,  pembelajaran,   penelitian  dan pengembangan   alat elektromedik; J.     melakukan  perakitan  dan instalasi  alat elektromedik;
k.    melakukan  perencanaan   instalasi,  pemeliharaan,   perbaikan,  pengujian  dan kalibrasi  alat elektromedik,   pengujian  dan kalibrasi;
1.      melakukan     kajian    teknis     (technical     assessment)     yang    berkaitan     dengan    alat
elektromedik,   pengujian  dan kalibrasi;  dan
m.   memecahkan   masalah  dan bimbingan  teknis bidang  elektromedik.
(2)  Hasil  kajian  teknis  sebagaimana   dimaksud  pada  ayat  (1) huruf  1 dapat  digunakan   sebagai perencanaan  pengadaan  dan penghapusan  alat elektromedik.

Pasal 22


Semua  nomenklatur   teknisi  elektromedis   sebelum  diundangkannya   Peraturan  Menteri  ini harus dibaca dan dimaknai  menjadi  Elektromedis    

DOWNLOAD REGULASI TENAGA ELEKTROMEDIS

0 komentar :

Masukkan kata kunci pencarian Anda :

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner