Quest Book

Time Now Is :

Welcome To Elektromedik Blog

You are visitor at website stats

Quest Book Sign>>>Isi Ngisi Buku Tamu Klik Sini<<<


Yang lagi ngintip

Search Something

Search something do you find. Insert keyword to find another article in this Blog or other site.

Translate This Article With Click Languange Icon There

More Read :

Sunday, June 14, 2009

Audiometri & Tympanometri

Telinga

Dalam mendeteksi kehilangan pendengaran, audiometri dan tympanometri adalah instrumen diagnostik yang membantu untuk mengetahui tingkat ketulian seseorang.

Audiometri adalah alat untuk mengetahui derajat gangguan pendengaran atau jenis ketulian masing-masing telinga secara kuantitatif dan akan bisa dikategorikan menjadi normal, tuli ringan atau tuli berat.

Sedangkan Tympanometri adalah pengukuran tekanan telinga yang berhubungan dengan tuba saluran eustachius pada membran tympani. Eustachian Tube/Tuba Eusthasius menghubungkan telinga tengah dan tenggorokan yang mempunyai tujuan menyeimbangkan tekanan udara ditelinga tengah dan luar serta merupakan ventilasi pada telinga tengah. Tes ETF/Fungsi Tuba Eusthasius dapat digunakan untuk mengetahui jika fungsi tuba eusthasius normal.

Uji audiometri ada dua macam:
(1) audiometri nada-murni, di mana stimulus suara terdiri atas nada murni atau musik (semakin keras nada sebelum pasien bisa mendengar berarti semakin besar kehilangan pendengarannya), dan
(2) audiometri wicara
di mana kata yang diucapkan digunakan untuk menentukan kemampuan mendengar dan membedakan suara.

Agar hasilnya akurat, evaluasi audiometri dilakukan di ruangan yang kedap suara. Respons yang dihasilkan diplot pada grafik yang dinamakan audiogram.

Frekuensi
Melihat pada jumlah gelombang suara yang dihasilkan oleh sumber bunyi per detik siklus perdetik atau hertz (Hz). Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwensi dari
* 20 sam¬pai 20.000Hz.
* 500 sampai 2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari
* Frekwensi 100 Hz dianggap sebagai nada rendah, dan nada
* 10.000 Hz dianggap sebagai nada tinggi. Unit untuk mengukur kerasnya bunyi (intensitas suara) adalah desibel (dB), tekanan yang ditimbulkan oleh suara. Kehilangan pendengaran diukur dalam decibel, yang merupakan fungsi logaritma intensitas dan tidak bisa dengan mudah dikonversikan ke persentase.
* Ambang kritis kekerasan adalah sekitas 30 dB. Beberapa contoh internsitas suara yang biasa termasuk gesekan kertas dalam lingkungan yang sunyi, terjadi pada sekitar 15 dB; per kapan rendah, 40 dB; dan kapal terbang jet sejauh kaki, tercatat sekitar 150 dB. Suara yang lebih keras i 80 dB didengar telinga manusia sangat keras.

Sedangkan Uji Tympanometri Tes dilakukan dengan memberikan nada murni pada telinga, dan mengukur respon gendang telinga terhadap suara dan perbedaan tekanan. Hasilnya akan ditampilkan pada kurva tympanogram.

0 comments:

Disclaimer

Blog ini tidak bertanggung jawab atas kesalahan atas program yang Anda download ataupun sesuatu hal yang berhubungan dengan materi-materi yang ada. Terima kasih atas saran dan kritik yang membangun. Non profit blog.

Subscribe to RSS headline updates Powered by FeedBurner

"All Links In This Blog Is Temporary Link"

NO SPAM AND VIOLATED CONTENT

Generated®

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner


Creative Commons License
Powered by Blogger | Created and Maintained by Generated | Design by Elque 2007
This workis licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 Malaysia License.
Best viewed in Firefox 1.5+ at 1024x768 or higher resolution
Copyright 2007 Content by BIZON network