Teknologi Augmented Reality Membantu Tindakan Operasi

 

 

 

 

Teknologi Augmented Reality pada Operasi Kanker Otak. Quantum leap teknologi pada dunia kesehatan. Teknologi ini mungkin masuk ke Indonesia 5 tahun ke depan.
#augmentedreality 
#teknologikesehatan 
#teknologibiomedik 
#biomedicalengineering 
#quantumteknologi
#brainsurgery

 

Membedakan OEM, Principle, Distributor, Agen Supplier, Vendor, Retail dan Third Party Pihak ke 3 Alat Kesehatan

 

Membedakan OEM, Principle, Distributor, Agen Supplier, Vendor, Retail dan Third Party Pihak ke 3.

Produsen, Original Equipment Manufacturer (OEM) didefinisikan sebagai perusahaan yang barangnya digunakan sebagai komponen dalam produk perusahaan lain, yang kemudian menjual barang jadi kepada pengguna. Asal usul istilah OEM berasal dari frasa Belanda, "Onder Eigen Merk" yang berarti "di bawah merek sendiri."

Perusahaan Principle "Utama" dapat memakai produk, suku cadang, dan komponen OEM sebagai milik mereka sendiri, setelah menandatangani dokumen penjualan kembali yang memberikan hak kepada perusahaan untuk menjual kembali produk OEM. Selain keuntungan finansial menjadi penyedia OEM, OEM mendapatkan publisitas gratis pada produk mereka (Contoh Ban Goodyear pada kendaraan Ford, Microchip Intel di komputer Dell dan Chip SnapDragon pada HP Anda)

Distributor adalah perusahaan perdagangan nasional yang mendapatkan hak eksklusif dari Principle berdasarkan perjanjian sebagai Distributor di Indonesia atau wilayah pemasaran tertentu. Ditemui juga Distributor Tunggal / satu-satunya. 

Secara umum, arti vendor adalah pihak (lembaga atau perorangan) yang menyediakan/ menjual bahan baku, bahan penolong, jasa, atau produk yang diolah atau dijual kembali oleh perusahaan lain untuk menunjang kinerja perusahaan tersebut. 

Adapun supplier adalah orang atau pelaku bisnis yang menyediakan barang atau bahan produk kepada perusahaan, untuk selanjutnya diolah atau didistribusikan kepada pelanggan melalui distributor atau vendor.

Kalau masih belum paham, silahkan lihat rantai pasokan (supply chain management) di bawah ini:
Pemasok atau supplier > Produsen > Distributor > Vendor > Pelanggan atau konsumen.
 
 
Vendor menjual produk dari distributornya dari waktu ke waktu kepada konsumen dalam jumlah kecil. Sementara supplier memasok jenis barang dan layanan tertentu ke produsen dalam jumlah besar.

Istilah ini memang terkadang membingungkan, sebab tidak sedikit pelaku usaha memainkan peran ganda, sebagai supplier dan juga vendor.

Berdasarkan definisinya Retail merupakan sebuah bisnis yang dijalankan dengan menjual produk eceran. Sedangkan retailer adalah istilah untuk menyebut orang atau perusahaan yang menjalankan bisnis ini untuk kemudian menjual produknya secara ecer dari tangan produsen utama atau distributor kepada konsumen akhir. Contoh toko alat kesehatan.
 



Pihak Ketiga adalah orang atau perusahaan yang ditunjuk untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi tidak ikut serta dalam perjanjian OEM-Distributor; jalur distribusi alat tersebut.

Hal tersebut perlu dipahami dikarenakan untuk mengetahui layanan Post Market suatu alat kesehatan. Dimana mulai diinstal dan digunakan sampai dengan garansi selesai, kita mengetahui dimana layanan garansi tersebut bisa diklaim. 

Bukan tidak mungkin keagenan kontrak penjualan distribusi alat kesehatan maupun kewenangan service berubah berpindah pada perusahaan yang lain, dimana juga terkadang tidak diketahui siapa perusahaan pemegang perjanjian keagenan yang baru. Dan hal tersebut sering terjadi. Hal tersebut sebenarnya bisa diketahui dari informasi dari Principle, siapa Distributor selanjutnya yang ditunjuk untuk menangani Support Pemeliharaan, Perbaikan, Ketersediaan Sparepart dan Klaim Garansi. 

Jika tidak ditemukan Informasi yang sesuai maka demi kecepatan dan ketepatan pelayanan, dimungkinkan untuk menunjuk Pihak Ketiga yang memiliki spesifikasi tenaga teknisi kompeten dan suku cadang sparepart yang dibutuhkan. Hal ini juga sering terjadi, disebabkan karena respon Post Marketing yang jelek dari Produsen atau Distributor produk alat kesehatan tersebut. 

Garansi Alat Kesehatan merupakan salah satu bentuk Produk Perlindungan Konsumen dari Produsen. Garansi jaminan mutu, daya tahan dan kehandalan operasional, tanggung jawab produk yang diterapkan. Pemberian garansi merupakan wujud pertanggungjawaban pelaku usaha kepada konsumen atas terjadinya kerusakan prematur suatu produk atau ketidakmampuan produk untuk melaksanakan fungsi yang diharapkan pada jangka waktu tertentu dan sebagai layanan purna jual kepada konsumen. 

Dengan layanan purna jual yang bagus maka komunikasi dan relasi dari user operator pengguna dan manajemen termasuk teknisi Elektromedis di Rumah Sakit dapat terjalin dengan baik. 

Maka sebenarnya kapasitas untuk Post Market After Sales berada pada Produsen Principle dan Distributor yang ditunjuk. 

Teknisi Principle dan Teknisi Distributor Resmi yang ditunjuk mempunyai hak eksklusif privilege pada support pelatihan khusus dan dukungan suku cadang yang terjamin. Sangat disayangkan apabila didapati After Sales Pelayanan Purna Jual langsung dari Produsen Principle dan Distributor Resmi tenaga teknisi tidak kompeten, responnya lamban dan ogah-ogahan. Kemana lagi konsumen harus menyampaikan. Tidak salah jika konsumen mencari pihak ketiga lain yang bisa membantu. 

Lingkup Layanan Purna antara lain :
-Jaminan mutu, daya tahan dan kehandalan operasional yang didalamnya termasuk pemeriksaan, perbaikan dan/atau penggantian produk atau komponennya tidak berfungsi baik selama garansi maupun setelah garansi;
-Dukungan training dan pelatihan 
-Pelayanan kunjungan Preventive Maintenance berkala selama masa Garansi
-Penyediaan dokumen informasi tidak terbatas pada identitas dan spesifikasi produk, Certificate Of Origin, manual prosedur, buku petunjuk, service manual, skema/diagram/gambar
-Ketersediaan pusat pelayanan purna jual (service center); Call Center Hotline  Service, Teknisi yang berkompeten untuk perbaikan dan pemeliharaan
-Ketersediaan suku cadang didalam lingkup pelayanan purna jual tersebut terkandung hak-hak konsumen, kewajiban dan tanggung jawab pelaku usaha.


Jika pelayanan purna jual pada masa garansi saja jelek, apalagi ketika masa garansi berakhir. Tentu kembali yang dirugikan konsumen termasuk harus mengeluarkan biaya tambahan yang percuma misal biaya onsight service setelah masa garansi habis ataupun menggunakan jasa pihak ketiga. 
Hal tersebut juga menjadi input evaluasi masukan bagi user dan manajemen bagi pengadaan peralatan kesehatan kedepannya dengan merk atau produsen yang sama.
#produsenalkes
#produsenalatkesehatan 
#alatkesehatan 
#alatkedokteran 
#alatelektromedis 
#manajemenrumahsakit 
#manajemenrs

Bekerja Di Luar Negeri (Pekerja Migran Indonesia) Sebagai Teknisi Alat Kesehatan Elektromedis

 


Bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia dengan kompetensi Teknisi Elektromedis di Luar Negeri apakah bisa? 
Seharusnya bisa, tergantung Requirement Persyaratan masing-masing badan penyedia lowongan pekerjaan dan kebijakan negara yang dituju. Menariknya Gaji yang ditawarkan adalah standar gaji luar negeri, rata-rata mata uang $ Dollar. 
Profesi tenaga kesehatan yang sering dibutuhkan di luar negeri adalah perawat, banyak sekali Careworker dengan basic pendidikan Perawat dengan persyaratan Sertifikasi Internasional Registered Nursed. 

Apakah Teknisi Elektromedis tidak bisa? Bisa, cuma jalan dan agen khusus penyalur tenaga Teknisi Elektromedis dari Indonesia belum ada. Dan beberapa institusi pendidikan Elektromedis belum menjalin kerjasama dengan badan pendidikan luar negeri, untuk menyeragamkan kurikulum berstandar Internasional. Semoga saja ada bagian manajemen Kampus Universitas atau Perguruan Tinggi yang baca postingan ini ya 😄
Dari IKATEMI kalau bisa mengakomodir malah lebih bagus, Elektromedis standar profesi Internasional 👍👍👍
 
 
 
 

 
Kebutuhan Teknisi Elektromedis untuk dalam negeri saja masih kurang masih mau ekspor tenaga Elektromedis ke luar negeri, ya kalau gaji Sallarynya lebih bagus kenapa tidak 😁😎

Itulah kenapa admin salah satu yang tidak pro kalau gaji teknisi Elektromedis disamakan dengan standar gaji UMK lulusan SMA sederajat tanpa kompetensi khusus. 
Tapi yang jelas untuk bekerja ke luar negeri harus memiliki skill score Bahasa English TOEFL dan skill bahasa negara yang dituju, mengurus VISA, dan sertifikasi keahlian khusus sesuai kebijakan negara yang dituju. 

Jika Anda Elektromedis ataupun agen penyalur tenaga kerja ke luar negeri untuk Teknisi Alat Kesehatan/Rumah Sakit dan saat ini bekerja di luar negeri bisa DM Admin. 
 
 

 
#tenagamigranindonesia 
#lowongankerjaluarnegeri 
#lowonganteknisi
#lowonganteknisielektromedik 
#lowonganteknisielektromedis
#agenpenyalurtki
#kerjaluarnegeri
#kerjadijepang 
#kerjadiaustralia 
#kerjadioman 
#kerjadikorea
#kerjadikoreaselatan
#pjtkiresmi

Memperingati Hari Kesehatan Sedunia Internasional 2022

 

 

Kesehatan kita dan kesehatan planet kita terkait erat, dan kebutuhan untuk fokus pada penciptaan masyarakat yang sehat di planet yang sehat menjadi semakin jelas. Tema Hari Kesehatan Dunia 2022 "Our Planet, Our Health" berpusat pada hubungan antara kesehatan planet kita dan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan – semua makhluk hidup. Sejalan dengan pendekatan One Health, yang menekankan saling ketergantungan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan, kampanye WHO tahun ini akan mempromosikan pesan dan aktivitas yang menunjukkan bagaimana pilihan individu dan perilaku sosial berdampak pada lingkungan kita.

Sementara manusia berkontribusi terhadap degradasi lingkungan dengan pola perilaku yang tidak berkelanjutan, kita dapat dan juga harus menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia – krisis iklim. Semuanya saling berhubungan: masalah, solusi, dan kami Meningkatnya suhu, banjir, dan curah hujan yang ekstrem adalah semua cara di mana perubahan iklim berdampak pada kehidupan jutaan orang. 

Pada saat yang sama, ancaman kesehatan lain yang disebabkan oleh manusia seperti polusi udara, degradasi ekosistem, dan produksi serta konsumsi tembakau memperburuk kerusakan planet kita. Ini adalah tema-tema yang akan dieksplorasi bersama dengan inisiatif-inisiatif yang dilaksanakan di kota-kota di seluruh Kawasan. WHO menyerukan kepada semua orang untuk membayangkan kembali dunia di mana udara bersih, air dan makanan tersedia untuk semua, di mana ekonomi difokuskan pada kesehatan dan kesejahteraan planet dan manusia, dan di mana kota, desa, dan komunitas yang sehat dan berpusat pada manusia menciptakan kondisi bagi orang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Memperingati Hari Aktivitas Fisik Sedunia

 

Memperingati Hari Aktivitas Fisik Sedunia. Begitu pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan tubuh, "Move To Live" 

Aktivitas fisik yang teratur atau olahraga ringan sampai sedang yang rutin dan teratur serta berkelanjutan adalah salah satu hal paling penting untuk kesehatan tubuh yang dapat dilakukan dengan mudah untuk memperoleh berbagai manfaat salah satunya menurunkan resiko penyakit tidak menular.

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga/energi dan pembakaran energi.
Aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila seseorang melakukan latihan fisik atau olahraga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu.

Melakukan aktivitas fisik merupakan salah satu pilar dan pedoman dari Gizi Seimbang. Dihimpun dari berbagai sumber, terdapat 3 tipe aktivitas fisik yaitu :

1. Aktivitas ringan
Dapat dilakukan selama kurang dari 150 menit per minggu. Berbagai bentuk aktivitas yang bisa dilakukan meliputi mencuci piring, memasak, memancing, dan sebagainya.

2. Aktivitas sedang
Dapat dilakukan sekitar 150 menit setiap minggunya. Bentuk aktivitas yang dapat dilakukan seperti naik turun tangga, bersepeda, berkebun, dan lain- lain .

3. Aktivitas berat
Jenis aktivitas fisik ini dapat dilakukan lebih dari 300 menit per minggu. Beberapa bentuk aktivitas yang dapat dilakukan meliputi sepak bola, mencangkul, naik gunung, berenang, jogging, dan lainnya.
Untuk mendapatkan hasil dari aktivitas fisik yang lebih maksimal direkomendasikan untuk melakukannya dengan prinsip BBTT yaitu Baik, Benar, Terukur, dan Teratur.

Baik adalah melakukan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya, benar adalah aktivitas yang dilakukan secara bertahap mulai dari pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan atau peregangan, terukur adalah aktivitas fisik yang diukur intensitas dan juga waktunya, dan yang terakhir adalah aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur sebanyak 3-5 kali dalam seminggu.
Manfaat Aktivitas Fisik

Beberapa manfaat kesehatan dari aktivitas fisik dapat segera diperoleh, seperti mengurangi perasaan cemas, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan kualitas tidur, beberapa aspek fungsi kognitif, dan sensitivitas insulin.
Manfaat lainnya adalah seperti peningkatan kebugaran kardiorespirasi, peningkatan kekuatan otot, penurunan gejala depresi, dan penurunan tekanan darah yang berkelanjutan; namun hal ini memerlukan beberapa minggu atau bulan dalam melakukan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik juga dapat memperlambat atau menunda perkembangan penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes tipe 2; bahkan resiko kanker. Aktivitas fisik yang terprogram juga dapat mengendalikan berat badan dan mengatasi obesitas.

Aktivitas fisik tidak memandang usia. Berapapun usia anda saat ini, tetap banyak pilihan aktivitas fisik dan latihan yang bisa dilakukan dengan rutin, demi tubuh yang sehat dan bugar.
Agar terhindar dari risiko cedera, Anda tentu saja harus memperhatikan kondisi dan kemampuan. Lakukanlah aktivitas secara bertahap, diawali dengan pemanasan, gerakan inti, hingga pendinginan.
 

Teknologi Remote Service Untuk Peralatan Elektromedis Teknologi Tinggi

 


Dengan kemajuan teknologi dan Era Internet of Things saat ini, beberapa peralatan medis teknologi tinggi seperti MRI, CT-Scan dan Cathlab sudah dilengkapi dengan Teknologi Remote Service Layanan Jarak Jauh dengan keunggulan sebagai berikut : 
1. Pemantauan proaktif 24/7
Analisis sistem berkelanjutan memungkinkan principle service center mendeteksi anomali kerusakan sebelum mempengaruhi kinerja sistem – melindungi Costumer dari breakdown unit yang lama dan biaya tak terduga.
2. Respon Peringatan Awal
Peringatan yang dihasilkan oleh sistem itu sendiri yang menunjukkan bahwa parameter sistem utama terdapat notifikasi kinerja alat medis yang berada di luar spesifikasi. Teknisi layanan jarak jauh siap mengatasi masalah potensial sebelum Costumer melakukan panggilan layanan perbaikan.
3. Diagnosis dan resolusi triase jarak jauh. 
Dengan pembacaan diagnostik jarak jauh, sistem peralatan medis modality dapat didiagnosis dari jarak jauh tanpa mempengaruhi alur kerja pelayanan di ruangan. Penjadwalan layanan jarak jauh memungkinkan Costumer memberikan akses ke sistem pada waktu yang tepat.
4.Pembaruan dan peningkatan perangkat lunak otomatis. 
Pembaruan dan peningkatan perangkat lunak otomatis dapat didistribusikan dan diinstal tanpa mengganggu alur kerja pelayanan, memastikan sistem Costumer selalu berjalan dengan release platform update terbaru.
 
 
#biomedik
#teknikbiomedik
#biomedikindonesia
#elektromedik 
#elektromedis
#elektromedikindonesia
#elektromedisindonesia 
#elektromedik_engineering 
#biomedicalengineer 
#d3elektromedik 
#d3elektromedis 
#d4elektromedik 
#d4elektromedis

Medical Equipment Technician - Elektromedis

 

Penjelasan Tentang Medical Equipment Technician - Elektromedis

Pedoman Teknis Fasilitas Rumah Sakit Kelas B

 

 


Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh beban kerja dan fungsi rumah sakit yaitu rumah sakit kelas A, kelas B, Kelas C dan Kelas D. Dari ke 4 kelas tersebut yang akan dibahas dalam pedoman ini adalah rumah sakit kelas B yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik terbatas. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit Kelas B ini, maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana, baik dan benar. Oleh karena itu lingkup dari pedoman teknis ini meliputi sarana (gedung),dan prasarana rumah sakit kelas B.


Rumah sakit harus memenuhi, persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit,yang menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. Keseluruhan persyaratan,tersebut harus direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. Adapun secara umum yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang menyangkut fisik gedung/ bangunan serta ruangan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih, listrik, instalasi air limbah dan lain-lain.


Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat, aksesibilitas dan luas lahan untuk bangunan rumah sakit; serta persyaratan teknis lainnya. Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap, langit-langit, dinding, lantai, struktur dan konstruksi, pintu dan toilet. Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan, ventilasi, listrik, air bersih, drainase, pengolahan limbah, sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran, sistem komunikasi, sistem tata suara, pencahayaan, sistem gas medis, sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga serta lift),dan sebagainya.


Penyusunan “Pedoman Teknis Fasilitas Rumah Sakit Kelas B“ ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas B, para pengelola rumah sakit, para pengembang rumah sakit (Yayasan, Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan, sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai fasilitas rumah sakit.

Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C

 

 

Rumah Sakit Kelas C merupakan sarana pelayanan kesehatan umum tingkat kabupaten/ kota yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis 4 (empat) spesialistik dasar dan 4 (empat) spesialistik penunjang. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit Kelas C ini, maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana, baik dan benar. Rumah sakit harus memenuhi, persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. 

Keseluruhan persyaratan tersebut harus direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. Adapun secara umum yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang
menyangkut fisik gedung/ bangunan serta ruangan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih, listrik, instalasi air limbah dan lain-lain.

Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat, aksesibilitas dan luas lahan untuk bangunan rumah sakit; serta persyaratan teknis lainnya. Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap, langit-langit, dinding, lantai, struktur dan konstruksi, pintu dan toilet.
Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan, ventilasi, listrik, air bersih,
drainase, pengolahan limbah, sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran, sistem komunikasi, sistem tata suara, pencahayaan, sistem gas medis, sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga serta lift),dan sebagainya.


Penyusunan “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C“ ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas C, para pengelola rumah sakit, para pengembang rumah sakit (Yayasan, Badan Usaha maupun Konsultan Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan, sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai kesamaan persepsi mengenai sarana prasarana maupun peralatan Medik & Non-Medik rumah sakit.


Buku Pedoman Spesifikasi Alat Kesehatan 2019

 

 


Buku Pedoman Spesifikasi Alat Kesehatan disusun untuk memenuhi kebutuhan akan acuan pengelolaan peralatan kesehatan di rumah sakit, yang diharapkan juga dapat digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan secara umum.


Buku pedoman ini disusun berdasarkan referensi yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan buku referensi lain, serta mengikutsertakan tim yang yang berasal dari beberapa Organisasi Profesi, perwakilan dari beberapa rumah sakit di Indonesia.


Pada buku pedoman ini dibahas mengenai penilaian kebutuhan spesifikasi alat kesehatan yang digunakan di rumah sakit maupun penyedia fasilitas kesehatan melalui tahapan yang perlu dilakukan dengan menilai seluruh aspek yang diperlukan dengan mempertimbangkan fasilitas, pengguna atau pasien dan SDM. Buku pedoman ini juga dilengkapi dengan spesifikasi alat kesehatan untuk membantu rumah sakit maupun penyedia pelayanan kesehatan yang lain untuk menilai kebutuhan sebelum dilakukan pengadaan alat kesehatan.

 

 

Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Kelas D Pratama

 

 


Rumah Sakit Pratama dibangun/didirikan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil dan daerah perbatasan yang kurang terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Pembangunan tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan R.I bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat. 

Kementerian Kesehatan menyediakan infrastruktur Rumah Sakit Bergerak lengkap dengan peralaatan medik, tenaga kesehatan spesialis serta biaya operasional sampai dengan tahun ke empat, sedangkan Pemerintah Daerah menyediakan lahan untuk rumah sakit Pratama beserta sarana dan prasarana pendukung lainnya seperti kantin, mess dokter dan jalan penghubung. Kendala terbesar dalam operasional Rumah Sakit Pratama adalah masih kurangnya tenaga (sumber daya manusia) terutama tenaga dokter spesialis dan juga banyaknya alat kesehatan yang belum berfungsi secara optimal. 

Kekurangan daya listrik yang ada di RS Pratama sehingga setiap Rumah Sakit sedaya upaya mempersiapkan genset untuk mengoptimalkan penggunaan daya listrik, itupun masih jauh dari sempurna. Rumah Sakit Pratama merupakan jawaban terhadap kebutuhan sarana pelayanan kesehatan di daerah yang baru baik di daerah terpencil (remote area) maupun daerah-daerah yang rawan konflik dan rawan bencana ataupun di daerah-daerah perbatasan (border area).

Pedoman Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita, Pengoperasian dan Pemeliharaan

 

 


Buku "Pedoman Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita, Pengoperasian dan Pemeliharaan" ini dapat dijadikan pegangan oleh pemberi pelayanan atau operator (dokter, bidan, perawat) dalam menggunakan peralatan medik sehingga dapat memberikan
pelayanan sesuai dengan standar, mengoptimalkan pemanfaatan peralatan medik dan memperpanjang
usia pakai. 

Buku ini juga dapat dipakai oleh teknisi pemula dalam melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan. Khusus untuk peralatan medik yang kompleks, disarankan agar pemeliharaan dan perbaikannya dilakukan oleh tenaga yang kompeten (teknisi elektronik).
Terima kasih saya ucapkan pada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku pedoman ini, baik dan lintas program di Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Ahli Teknik Elektromedik Indonesia (IKATEMI), prafesi terkait peralatan medik dan pelaksana teknik di lapangan.

Terbatasnya petunjuk teknis atau tidak tersedianya petunjuk penggunaan dan pemeliharaan alat, seringkali mengakibatkan peralatan medik yang ada tidak dapat digunakan secara optimal atau bahkan tidak digunakan sama sekali serta menyebabkan penyediaan peralatan medik tidak sesuai dengan kebutuhan.
Buku pedoman ini berisi tentang cara pengoperasian, pemeliharaan dan pengelolaan peralatan medik,
dijelaskan mulai dari siklus perjalanan (live cycle), sistim pemeliharaan (maintenance system) dan tahapan manajemen pemeliharaan. Disamping itu, buku ini juga berisi tentang contoh spesifikasi peralatan medik yang diharapkan dapat membantu para perencana di Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dalam merencanakan kebutuhan peralatan medik bagl bayi baru lahir, bayi dan balita. Buku pedoman ini dapat dipakai sebagai acuan fasilitas pelayanan kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Kelas D dan C dalam menyusun prosedur operasional bagi perencana, penyedia, daftar inventaris alat, pengoperasian dan pemeliharaan peralatan medik yang memberikan layanan kesehatan bagi bayi baru lahir, bayi dan balita.

 Proses penyusunan pedoman ini dllakukan dengan meninjau kembali berbagai kepustakaan, pedoman
dan buku-buku teknik manajemen peralatan medik yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan American Hospital Association (AHA) dengan melibatkan tim yang berasal dari berbagai pengelola program di Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Ikatan Ahli Teknik Elektromedik Indonesia (IKATEMI) serta perwakilan dari beberapa Rumah Sakit di Jakarta, Rumah Sakit Ka bupaten dan Puskesmas yang alokasi dananya berasal dari DIPA Direktorat Bina Kesehatan Anak dan Save the Children. Telah dilakukan uji coba draft buku pedoman ini di Kabupaten; Bireun (Aceh), Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kepahiang (Bengkulu), SIAK (Riau), Pangkep (Sulawesi Selatan), dan Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat).

 

 

Pedoman Unit Pemeliharaan Regional Alat Kesehatan / Regional Maintenance Center (RMC)

 

 

Unit Pemeliharaan Regional Alat Kesehatan / Regional Maintenance Center (RMC) merupakan upaya terobosan dalam mengatasi permasalahan pemeliharaan alat kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama khususnya di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).


Lokasi Puskesmas yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemeliharaan rutin alat kesehatan, terkait keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran di bidang teknik pemeliharaan alat kesehatan. Dengan adanya program RMC ini diharapkan dapat meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan di Puskemas.


Tujuan Umum : Untuk mencapai kondisi pelayanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan secara optimal dengan terpeliharanya alat kesehatan yang digunakan dalam pelayanan.
Tujuan Khusus :
1. Optimalisasi SDM Teknis pemeliharaan alat kesehatan
2. Efisiensi anggaran pengadaan alat kesehatan
3. Kolaborasi Pusat dan Daerah
4. Peningkatan mutu layanan kesehatan di DTPK


Dimaksud dengan fasilitas pelayanan kesehatan terbatas pada fasilitas pelayanan kesehatan primer ataupun RS kelas D/Pratama yang belum memiliki tenaga pemelihara fasilitas sendiri. Dan pedoman penyelenggaraan ini pemanfaatannya untuk dinas kesehatan propinsi/kabupaten/kota selaku pembina ataupun pembimbing dari fasilitas pelayanan kesehatan tersebut

Kriteria tenaga yang diharapkan sebagai berikut :
1. Kepala UPAK :
Tingkat pendidikan minimal S1/D IV/DIII/DII bidang elektromedik/ elektro / instrumentasi/listrik 1 orang.
2. Koordinator Pemeliharaan Alat Kesehatan:
Tingkat pendidikan Min. DIII / DII / SLTA atau setara bidang elektromedik/ elektro/ instrumentasi /listrik 1 orang
3. Koordinator Kalibrasi Internal Alat Kesehatan:
Tingkat pendidikan Min. DIII / DII / SLTA atau setara bidang elektromedik/ elektro/ instrumentasi /listrik 1 orang
4. Tenaga Administrasi
Tingkat pendidikan minimal SLTA atau setara bidang administrasi 1 orang
5. Teknisi pemeliharaan :
Tingkat pendidikan minimal SLTA atau setara bidang elektromedik/elektro/ instrumentasi /listrik minimal 1 orang
6. Teknisi Kalibrasi Internal:
Tingkat pendidikan minimal SLTA atau setara bidang elektromedik/elektro/ instrumentasi /listrik minimal 1 orang

 Mungkin Krtiteria ketenagaan RMC perlu ditinjau kembali 

 

 

Alat RSUD Dairi Rusak tak Diperbaiki yang Baru tak Bisa Dipakai

 

 

Beberapa peralatan medis di RSUD Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, dua bulan belakangan ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Beberapa peralatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, dua bulan belakangan ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Warga yang berobat pun terpaksa dirujuk ke RSUD terdekat.

Ada yang aneh. Alat rontgen dan ventilator atau alat bantu pernafasan yang rusak, tidak diperbaiki.

Padahal alat tersebut masih masa garansi. Sebaliknya, manajemen rumah sakit justru memilih melakukan pembelian alat baru misalnya rapid tesnya dan foto thorax harus ada, harus pergi dulu ke Pakpak Bharat berfoto. Baru kembali ke Sidikalang, baru dirujuk. Berputar-putar. Kasihan. Syukur kalau masih ada filmnya di sana. Pernah juga tidak ada. Kabanjahe atau Medan lah jadinya,” ungkap sumber.

Lebih jauh dipaparkan, seharusnya sebelum pembelian alat baru harus ada surat dari teknisi yang menyatakan bahwa alat itu tidak dapat digunakan lagi.

“Kan harusnya ada surat dari teknisi menyatakan ini memang sudah nggak bisa lagi diperbaiki. Harus biaya sekian. Itu contohnya. Jangan rusak sedikit, beli baru,” kata mereka.

 

Sedang diproses sekarang. Persoalannya, biaya perbaikan

 

Terkait alat baru, disebut tidak bisa digunakan karena tidak ada izin dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Alat itu pun teronggok.

“Alat baru ini berbeda merek dengan yang pertama. Izin harus ada dari Batan, tenaga nuklir. Persoalannya, untuk lapis dinding, belum layak untuk alat yang baru ini. Harus ada pernyataan dari tenaga nuklir mengatakan bahwa alat itu aman untuk sekitarnya, tidak bocor radiasinya,” papar sumber.

“Makanya lebih bagus yang lama diperbaiki. Kan ada plumbum namanya di ruangan itu, yang mengamankan radiasi. Tapi untuk alat ini, yang sedang rusak. Untuk yang baru, belum. Mereka (manajemen) harus urus izin dulu. Mereka pikir radiologi ini sama dengan alat doorsmer, bisa diletakkan di mana saja,” lanjut sumber.

Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi Leonardus Sihotang dikonfirmasi di ruang kerjanya Senin, 2 Nopember 2020, menyebut mengetahui sekilas kondisi rusaknya peralatan di RSUD Sidikalang itu.

“Kalau ventilator aku belum dengarlah. Tapi kalau rontgen, ya rusak kemarin itu kan. Memang sudah ada rencana juga pembelian alat rontgen baru. Jadi yang rusak diperbaiki. Yang baru masih ada syarat yang harus dipenuhi tentang dampak radiasi. Yang rusak ini, berarti rusak lagi ini. Kemarin sudah sempat bagus, berarti rusak lagi,” kata dia.

Leonardus pun menghubungi seseorang lewat telepon seluler, yang dipanggilnya dengan sebutan dokter, menanyakan kondisi peralatan itu.

“Kondisi rontgen sekarang di rumah sakit bagaimana. Yang perbaikan belum atau bagaimana? Kenapa lama? Artinya kan ini kebutuhan yang pokok juga di situ. Jangan lamalah ngambil keputusan. Penuhilah cepat perizinannya itu,” kata Leonardus.

Usai pembicaraan di seluler itu, Leonardus mengatakan, alat baru sebenarnya sudah bisa digunakan, namun terganjal perizinan.

"Yang baru, sebenarnya sudah bisa. Hanya, ada beberapa dokter di situ, belum standar katanya. Ada izin segala macam. Memang kalau dipergunakan, bisa. Tapi di dalam sendiri (lingkup RSU) ada masalah, itunya. Saling intip, saling ini,” katanya.

Terkait peralatan rusak tidak diperbaiki, dikatakan karena masalah biaya. Pun demikian, sedang proses saai ini.

“Sedang diproses sekarang. Persoalannya, biaya perbaikan. Yang dihubungi mereka pertama, harganya luar biasa, nggak cukup uangnya. Dicarilah yang kedua. Sekarang sudah datang barangnya semua, besok mau dipasang katanya. Memperbaiki yang lama,” ujar Leonardus.

Direktur RSUD Sidikalang Sugito Panjaitan, coba dikonfirmasi di kantornya, tidak berhasil. Salah satu staf menyebut sedang rapat.

 https://www.tagar.id/alat-rsud-dairi-rusak-tak-diperbaiki-yang-baru-tak-bisa-dipakai

Teka-teki Tabung Oksigen Kosong, Siapa yang Benar? Pasien atau RSUD Pirngadi Medan? - Manajemen Rumah Sakit

 


JAKARTA, KOMPASTV - RS Pirngadi mengklaim pihaknya telah melakukan investigasi internal kasus dugaan kosongnya oksigen kosong yang menyebabkan pasien meninggal. Menurut Direktur RSUD Pirngadi, Suryadi Panjaitan, dari hasil investigasi dipastikan tabung oksigen berisi 250 liter. Berdasarkan catatan pada label yang ada di tabung oksigen tersebut, tanggal 22 Mei 2021, tabung baru diisi sebanyak 2.000 liter. Maka dari itu, Suryadi meyakini pihak rumah sakit tidak akan pernah memberikan tabung oksigen kosong pada pasien manapun. Selengkapnya hanya di dialog Rosianna Silalahi bersama Rawi Candra (Anak Korban Kasus Tabung Oksigen Kosong), Bobby Nasution (Wali Kota Medan), Suryadi Panjaitan (Dirut RSUD Pirngadi Medan), Risma Situmorang (Praktisi Hukum Kesehatan), dan Erwin Sah (Pendamping Keluarga Korban) dalam ROSI Eps. Tabung Oksigen Kosong Berujung Maut. Tayang Kamis, 3 Juni 2021, pukul 20.00 WIB, hanya di Kompas TV. Independen Terpercaya.










Contoh Kasus KTD Tabung Oksigen Kosong Versi Pasien Berujung Maut - RSUD Dr. Pirngadi Medan - Manajemen Rumah Sakit

 


JAKARTA, KOMPASTV - Rabu, 26 Mei 2021 lalu, publik sempot dihebohkan dengan video viral berdurasi 56 detik tentang keluarga pasien yang menduga ibunya meninggal setelah diberi tabung oksigen kosong. Anak pasien, Rawi Chandra meyakini betul tabung oksigen yang dipakai ibunya kosong, sebab ia langsung mencoba oksigen tersebut sesaat setelah ibunya meninggal dunia. Menurut cerita Rawi, dokter yang sedang berjaga saat itu berusaha mengecek tabung oksigennya apakah benar kosong atau tidak. Ternyata dokter tersebut mengakui bahwa tabung oksigennya memang benar kosong.

Selengkapnya hanya di dialog Rosianna Silalahi bersama Rawi Candra (Anak Korban Kasus Tabung Oksigen Kosong), Bobby Nasution (Wali Kota Medan), Suryadi Panjaitan (Dirut RSUD Pirngadi Medan), Risma Situmorang (Praktisi Hukum Kesehatan), dan Erwin Sah (Pendamping Keluarga Korban) dalam ROSI Eps. Tabung Oksigen Kosong Berujung Maut. Tayang Kamis, 3 Juni 2021, pukul 20.00 WIB, hanya di Kompas TV. Independen Terpercaya.

Sudah Biasa ataukah menjadi Kebiasaan Pelayanan Rumah Sakit Pemerintah Pelayanannya Selalu Kebanyakan Jelek ? Kenapa

Jaringan 5G Telekomunikasi, Indonesia Masih Terlalu Dini untuk Implementasi IOT AI Teknologi Kesehatan dan Big Data Kesehatan

 


Perkembangan teknologi 5G yang digadang-gadang membawa peningkatan signifikan masih ditunggu penerapannya di Indonesia sudah akan mulai Release pertama kalinya di Awal Juni 2021. Terkait perangkat yang mendukung harus memenuhi kriteria penangkap frekuensi sinyal 2,3Ghz 5G.

Meski memiliki banyak fitur menarik, jelas konsumen di Indonesia masih perlu menunggu penerapan 5G di Indonesia.

Harapan Bidang Kesehatan dengan adanya Teknologi 5G

  • Manajemen informasi kesehatan, rekam medis data pasien digital hingga pemantauan kesehatan dan telemedicine, Dokter tidak perlu visit ke lokasi
  • Inovasi teknologi seperti cloud computing, big data, hingga artificial intelligence (AI) bidang Kesehatan, Operasi pasien secara Robotik dengan operator dokter via Jaringan Internet
  • Setiap orang/pasien harus dapat menerima pelayanan di mana pun dan kapan pun ia membutuhkannya
  • Pemanfaatan inovasi digital harus dipastikan aman, andal, serta bertanggung jawab, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku
  • Telemedicine masuk pada klaim BPJS Kesehatan
  • Terintegrasinya IOT online data peralatan kesehatan mulai dari working operasional alat, self inisialisasi list error kerusakan, waktu pemeliharaan dan perbaikan
  • Mempercepat analisa dan troubleshooting menyeluruh pada inisialisasi pengecekan perbaikan suatu peralatan kesehatan
  • Manajemen informasi Online Pemeliharaan dan Peralatan Kesehatan
  • Manajemen informasi Aset dan IOT Big Data Peralatan Kesehatan
  • Manajemen pelatihan SDM Tenaga Kesehatan
  • Manajemen Birokrasi Perijinan dan Pengadaan Peralatan Kesehatan
  • Manajemen Akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan
  • Dst

Kendala

Mengenai kesiapan Indonesia dalam penyediaan layanan 5G, kendalanya saat ini juga terletak pada penelitian. Harapan ke depannya, ketika telah diterapkan di Indonesia secara luas, 5G akan meningkatkan pengalaman digital penggunanya.

Buat STR jadinya lama, bukan 5G yang bermasalah .....

Aset Rumah Sakit ngga sinkron sinkron validasinya, bukan 5G yang bermasalah ....

Manajemen pemeliharaan dan perbaikan peralatan kesehatan yang bermasalah pada Birokrasi usulannya, bukan 5G yang bermasalah ....

Pengadaan peralatan kesehatan yang tidak sesuai dengan keperluan dan kebutuhan, bukan 5G yang bermasalah ....

Admin melihat Teknologi 5G masih sangat baru, masih terlalu dini dan memerlukan kajian ke depannya, apalagi yang berhubungan dengan teknologi Kesehatan. Jaringannya bolehlah 5G kenceng super ngebut, tapi kesiapan secara teknis Sarana Prasarana dan SDM Fasilitas Pelayanan Kesehatan sangat jauh dari yang diharapkan untuk mengikuti teknologi 5G tersebut dan ketentuan perlindungan hukum di dalamnya.




Manajemen Rumah Sakit Amburadul VS Teknologi Kesehatan

 



EVOLUSI TEKNOLOGI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Asset adalah  /asét/ n 1 sesuatu yang mempunyai nilai tukar; 2 modal; kekayaan:

Alat kesehatan sebagai salah satu Asset dan Investasi rumah sakit dalam menjalankan pelayanan kepada pasien, merupakan salah satu variabel dari banyak variabel yang ada di Rumah Sakit.


Mengetahui seberapa jauh adopsi teknologi informasi di fasilitas pelayanan merupakan sebuah tantangan besar di Indonesia. Terlebih lagi, banyaknya variasi fasilitas pelayanan kesehatan menurut UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.1 Fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia dapat berupa rumah sakit, puskesmas, klinik swasta, praktik dokter bersama, bahkan sampai dokter dan bidan praktik perorangan, yang dibagi menjadi 3 level pelayanan primer, sekunder dan tersier.

Belum termasuk fasilitas lain yang terkait dengan kesehatan seperti apotik, laboratorium klinik, penyedia asuransi kesehatan sampai penyelenggara pendidikan kedokteran dan kesehatan. Karakteristik kepemilikian rumah sakit juga bervariasi mulai dari milik pemerintah (Kementrian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, TNI, POLRI), Yayasan (Muhammadiyah, Yakkum) maupun perorangan dan swasta, yang menambah kompleksitas dari karakter rumah sakit yang ada di Indonesia. Terdapat lebih dari 2.000 rumah sakit yang terdaftar dengan karakteristik dan tipe yang berbeda-beda sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

Mayoritas RS masih menggunakan sistem manual mulai dari pencatatan identitas pasien sampai pembuatan laporan. Data kegiatan pelayanan di setiap unit kerja diarsipkan dalam bentuk paper-based yang membutuhkan ruang penyimpanan yang luas sehingga menyebabkan kesulitan dalam pencarian data dan informasi yang dibutuhkan. Namun demikian, sistem manual dianggap sudah tidak optimal dalam pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga beberapa RS/RSK saat ini mulai mengadopsi Teknologi Informasi untuk mengatasi berbagai kendala yang dialami serta untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan.

Adopsi teknologi informasi di rumah sakit perlu diidentifikasi sampai sejauh mana digunakan dalam menunjang mutu pelayanan kesehatan. Fakta menunjukkan beberapa rumah sakit sudah memggunakan atau mulai menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan kesehatan, baik pengembangan sendiri, bekerjasama dengan pihak lain maupun maupun outsourcing.Namun banyak rumah sakit yang belum menggunakan sistem informasi walaupun sudah masuk dalam perencanaan dikarenakan berbagai hal. Survey terhadap penggunaan sistem informasi di rumah sakit perlu dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana rumah sakit siap mengadopsi sistem informasi.


SIRS ONLINE RUMAH SAKIT



Hal tersebut sudah dijabarkan secara jelas pada :
  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 1171/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Sistem Informasi Rumah Sakit 
  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 82 Tahun 2013 Tentang Sistem Informasi Rumah Sakit
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang selanjutnya disingkat SIMRS adalah suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan Rumah Sakit dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat, dan merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan.

Sistem Informasi Kesehatan adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur, teknologi, perangkat, dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan


Pesatnya kemajuan teknologi di bidang informasi telah melahirkan perubahan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan ini, peran dan fungsi pelayanan data dan
informasi yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit sebagai salah satu unit kerja pengelola data dan Informasi dituntut untuk mampu melakukan berbagai penyesuaian dan perubahan. Sistem Informasi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelayanan data dan informasi dengan lebih produktif, transparan, tertib, cepat, mudah, akurat, terpadu, aman dan efisien, khususnya membantu dalam memperlancar dan mempermudah pembentukan kebijakan dalam meningkatkan sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang penyelenggaraan Rumah Sakit di Indonesia

Rumah Sakit sebagai Core Bisnis Pelayanan Kesehatan.


PROSES BISNIS


1. Pelayanan Utama (Front Office)
Setiap Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu dengan lainnya), tetapi secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan terintegrasi yang sama yaitu proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap) dan proses pulang (seperti pada gambar berikut). Data yang dimasukan pada proses rawat akan digunakan pada proses rawat dan pulang. Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, bedah, invasive, diagnostic non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat. Jadi dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order communation system.


2. Pelayanan Administratif (Back-Office)
Rumah Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang, mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor, barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan, pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office. Proses bisnis data tidak terstruktur Proses-proses bisnis tersebut di atas yang melibatkan data-data terstruktur, yang dapat dikelola dengan relational database management system, selain itu terdapat proses bisnis yang melibatkan data yang tidak terstruktur seperti alur kerja, surat diposisi, email, manajemen proyek, kolaborasi, team work, manajemen dokumen dan sejenisnya.
 


 
STRATEGY MANAJEMEN OFFICE



SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) adalah aplikasi yang menampilkan status dan history pasien yang dirawat di rumah sakit, baik dari keterangan identitas, riwayat penyakit, nama dokter, ruangan asal dirawat, obat-obatan farmasi, hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan radiologi, tagihan pengobatan kasir, pembayaran yang lunas, pembayaran yang tertunda, dll.

Di lain hal SAMRS (Sistem Aset Manajemen Rumah Sakit), adalah aplikasi yang menampilkan informasi status Asset yang dimiliki oleh Rumah Sakit (tidak melihat alokasi dana pembelian), keterangan asset, sebaran ruangan distribusi asset, riwayat perbaikan aset, riwayat pemeliharaan asset, status asset, penyusutan nilai asset, status asset, dll

Pada SIMRS objek variable adalah pasien, sedangkan pada SAMRS objek variable adalah asset termasuk alat kesehatan dan alat elektromedik. Dimana kedua aplikasi di atas adalah Pekerjaan Rumah (PR) Rumah Sakit yang harus direalisasikan di lapangan agar Asset Investasi Rumash Sakit bisa direkapitulasi, tercatat dan didokumentasikan untuk dievaluasi. 

Teknik Elektromedik dalam hal ini sebagai pelaksana di lapangan, untuk pemeliharaan dan perbaikan, bisa melakukan manajerial dan monitoring dalam pekerjaan di lapangan. Di lain pihak, informasi tentang asset bisa diakses oleh pihak manajemen, pelayanan, dan pihak terkait lainnya. 
Tetapi bila aplikasi SAMRS tidak ada, dan tidak ada data inventaris update secara berkala, akan menghambat sisi pelayanan secara tidak langsung suatu waktu. Tidak adanya pemutakhiran data yang optimal.

Tergantung pada ukuran rumah sakit atau system kesehatan yang ada di lapangan, jika ada ratusan sampai ribuan peralatan / asset, dan cenderung akan terus bertambah seiring dengan perkembangan kemajuan rumah sakit,  - dari sistem pengendali udara dan gas medis untuk manset tekanan darah dan IV pompa - biasanya diinventarisasi secara manual dan berhasil "menjadi pekerjaan berulang-ulang" oleh manajemen fasilitas dan Biomed team. Dengan volume tipis saja, risiko keuangan dan implikasi yang terkait dengan pengelolaan persediaan ini bisa jadi menjadi resiko yang menakutkan layaknya "Bom Waktu"



 "Di Rumah Sakit : …banyaknya jenis obat, alat kesehatan, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staff Rumah Sakit yang cukup besarmerupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan"

Kesalahan bisa diminimalisir dengan antisipasi dan koreksi yang uptodate. Sangat bisa dengan adanya sistem informasi online yang tangguh. Perencanaan dan manajerial yang baik pasti akan menghasilkan kebijakan dan keputusan yang tepat sasaran.

Di suatu rumah sakit pasti mempunyai bagian pengembangan aplikasi dan software, baik itu internal maupun outsource, masalahnya tidak bisa terintegrasinya aplikasi SAMRS Sistem Asset  Manajemen Rumah Sakit dengan aplikasi indukan yang sudah dibuat, dan seharusnya bisa segera dibuat solusi, tidak terbengkalai dan tertunda tanpa waktu yang jelas. Karena tongkat estafet tersebut secara sistemik akan mengakibatkan masalah pada pelayanan di lapangan secara tidak langsung. 

Asset khususnya alat kesehatan sebagai variable objek tongkat estafet yang berkesinambungan satu dengan yang lain, dengan tetap fokus pada garis finish, pada visi dan misi rumah sakit menuju pelayanan prima. Hal ini sebenarnya bisa dioptimalkan dengan adanya Sistem Aset Manajemen Rumah Sakit (SAMRS) yang berperanan untuk mengolah data asset, menginventarisir, mengetahui status dan sebaran asset, evaluasi dan perencanaan pada asset itu sendiri. 

Informasi tersebut menjadi tongkat estafet yang secara sistemik berdaya guna bagi semua pihak.  

Bagian pelayanan yang berkaitan dengan Asset :
  • Manajemen Rumah Sakit
  • Bagian Umum & Keuangan
  • Bagian Gudang Umum & ATK
  • Bagian Gudang Farmasi
  • Unit Layanan Pembelian (ULP)
  • Bagian  Keperawatan & Pelayanan
  • Bagian Perencanaan & Pemasaran
  • Bagian Sumber Daya Manajemen (SDM)
  • Bagian lainnya melihat kompleksitas Rumah Sakit
Efek domino dari Manajerial dan Perencanaan yang tidak terarah karena pengelolaan manajemen aset yang amburadul berdampak pada pelayanan di ruangan secara tidak langsung, sangat disarankan rumah sakit sudah siap dengan masterplan blueprint system informasi dan system manajemen yang mumpuni.

Contoh Kasus :
Suatu tindakan bedah yang dijadwalkan minggu depan setelah pemeriksaan pasien tidak bisa dilakukan/ tertunda/ dirujuk ke rumah sakit lain karena Bor Bedah tidak memiliki stock Mata Bor untuk tindakan operasi. Mata Bor yang lama sudah tumpul dan tidak bisa digunakan kembali. Dan pemesanan mata bor membutuhkan waktu yang lama karena stock barang inden 2 bulan dari vendor distributor. Permasalahan tersebut disampaikan saat kerusakan alat karena mata bor yang tumpul, tidak ada unit back up. Dan perencanaan ajuan telaahan permintaan dari ruangan operasi telat.

Ada stigma negatif tentang kinerja di lapangan tentang kerusakan alat dengan tertundanya pelayanan di lapangan"BISA MEMBELI ALAT KESEHATAN YANG BAGUS DAN MAHAL, TETAPI TIDAK BISA MEMPERBAIKI" Tidak bisa memperbaiki tetapi di balik permasalahan tersebut ada birokrasi sistem yang masih terhambat, sehingga berdampak pada perbaikan kemudian melebar ke pelayanan di ruangan. Adanya kerancuan informasi karena perencanaan yang telat dan belum termonitoring dengan benar. Bukan rusak alatnya tetapi bahan habis pakai mata bor bedah habis stock, sehingga tindakan operasi yang akan dijadwalkan tidak bisa dilakukan. Kerugian untuk rumah sakit.

Praktek-praktek Sistem Informasi Manajemen terbaik akan membantu Manajemen untuk mencari potensi penghematan dalam basis asset tetap dan menunjukkan cara untuk menghemat waktu dalam proses alurnya. Bosan dengan alur birokrasi yang memakan waktu lama. Bukannya tidak bisa dibuat manual, tetapi apakah efisien dan dapat dimonitoring secara optimal. 

Topik-topik kunci yang dibahas meliputi:

    - Issue Masalah Management Asset Kesehatan
    - Manajerial Fasilitas (Peran / Pertimbangan / Kebijakan Pelayanan)
    - Praktek Terbaik Berlakunya Ulasan Evaluasi Berkala



 
MANAJERIAL ASSET DI RUANGAN ICU


Dalam lingkungan kesehatan dengan pelayanan di Rumah Sakit yang semakin meningkat, penekanan baru telah ditempatkan pada akuntabilitas rumah sakit secara terbuka dan serba online. Transparansi ditingkatkan dengan catatan manajemen aset tetap - yang umumnya merupakan item baris terbesar dari neraca suatu rumah sakit. Pentingnya catatan manajemen aset tetap akurat dan terdokumentasi dengan baik adalah yang terpenting, tetapi mempertahankan inventarisasi aset dapat tetap diandalkan adalah tantangan rumah sakit untuk berlangsungnya pelayanan prima, baik untuk setiap rumah sakit negeri, yayasan atau swasta. 

Memanfaatkan (mengoptimalkan) investasi sistem rumah sakit dapat:

  • Memaksimalkan efektivitas perawatan dengan merampingkan proses pemeliharaan untuk memperpanjang umur panjang aset dan meningkatkan produktivitas; 
  • Mengurangi biaya persediaan belanja bulanan dengan membantu dalam menghindari membawa persediaan yang tidak dibutuhkan atau mengalami downtime karena persediaan tidak memadai; 
  • Meningkatkan pemulihan garansi kerusakan asset dengan meningkatkan pelacakan riwayat asset dari perbaikan yang memenuhi syarat untuk klaim garansi; dan 
  • Meningkatkan keandalan asset dan manajemen risiko dengan peran resiko regulasi. 
  • Monitoring transparansi dari pihak yang berkompeten, uptodate dengan status asset
  • Perencanaan system jangka pendek, menengah dan jangka panjang 
  • Koordinasi dan feedback yang baik dari alur system informasi mencakup multiple user dan manajerial

Issue Masalah Management Asset Kesehatan


Mengatasi akuisisi aset tetap (Program manajemen aset dengan segudang cek, total rekapitulasi, proses, dan praktek) terhadap pemeliharaan asset (Alur kerja di mana fokusnya adalah di bagian maintenance pemeliharaan – tugas harian, sparepart, pemesanan pembelian, alat kerja, keterampilan, ijin sertifikasi, dll ...) berlanjut pada tantangan pelayanan kesehatan. 

Manajemen pemeliharaan, misalnya, memiliki interaksi yang luas dengan aplikasi pengadaan untuk mengelola bagian asset dan kajian persyaratan pembelian asset serta interaksi dengan aplikasi jumlah  sumber daya manusia untuk mengontrol dan mevalidasi keterampilan untuk pemeliharaan asset. Analisa Beban Kerja Tenaga Pemeliharaan dan Perbaikan Alat Kesehatan. Namun, jarang ada umpan balik tentang apa yang dilakukan untuk solusi tetap, tidak adanya statistik dan informasi berbagi biaya dengan unit bisnis rumah sakit berasal.

Tantangan ini lebih diperkuat ketika salah satu upaya untuk melindungi Perputaran Aset Dengan melihat dari Pengadaan dan Pemeliharaan 
seperti proses bisnis yang digambarkan di bawah ini.


LIFECYCLE ASSET


Riwayat Sistem Manajerial Asset, seperti digambarkan di atas, telah difokuskan pada aset tetap depresiasi modal manajemen dan memenuhi minimal (inti) kepatuhan terhadap peraturan. Tantangannya adalah sebagian besar data tentang aktiva tetap dipertahankan dalam banyak aplikasi yang berbeda yang menjaga data mereka sendiri atas aset tetap, seperti yang digambarkan di bawah ini, di mana kebutuhan dan pemanfaatan aset tetap dalam rumah sakit adalah klinis di alam. Sebagian besar sistem yang berbeda jauh baik mempertahankan data yang berlebihan dan menggunakan berbeda definisi data.


Penggolongan peralatan kesehatan menurut prosedur atau sifat pemakaiannya antara lain peralatan consumable atau yang habis pakai dan peralatan dengan sifat yang bisa digunakan secara terus menerus. Bisa menjadi sangat mudah dengan adanya aplikasi SAMRS.

Dari kamar operasi (OR) untuk pusat data klinis, rumah sakit memiliki kebutuhan bisnis untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset dan menghindari kegagalan aset. Namun, kurangnya pemahaman lengkap dari proses akuisisi modal sampai ke proses pemeliharaan telah membatasi rumah sakit dari mendapatkan beberapa dampak pada garis terakhir.

Misalnya, dana modal membutuhkan metrik substantif dan analisis risiko obyektif dan organisasi kesehatan yang paling tetap percaya bahwa pemeliharaan preventif alat kesehatan meningkatkan kemampuan operasional dan pelayanan, di lain hal sering melihatnya sebagai biaya dan bukan sebagai investasi. Hal ini diilustrasikan sebagai manajer rumah sakit berusaha untuk mendapatkan data dasar yang dibutuhkan misalkan efektifitas fungsi asset, usia asset, investasi modal, transparansi, dan keberlanjutan aset mereka, untuk menghitung nilai riil aktiva tetap unit bisnis rumah sakit ini. Dengan demikian, sebagian besar tidak dapat menghubungkan titik-titik dari dampak Asset Lifecycle lengkap untuk pendapatan.

Mempertimbangkan pentingnya menghindari potensi pendapatan yang hilang terkait dengan kerusakan asset tetap, misalnya, penutupan pelayanan OR. Ada banyak bagian sparepart dan bahan habis pakai peralatan yang diperlukan untuk menjaga OR berfungsi pada pelayanan efisiensi puncak. Misalkan kerusakan chiller pendingin, penurunan daya dan generator gagal beroperasi, mesin sterilisasi autoclave rusak atau gas medis gagal bekerja, akan ada dampak konsekuensi keuangan bagi organisasi.

Pertimbangan yang paling jelas adalah biaya untuk memperbaiki, memelihara, dan / atau akhirnya menggantikan asset yang rusak. Lebih memperburuk situasi dengan waktu respon pada kebijakan dan tindakan penyelesaian kegagalan peralatan: Ketika kegagalan tersebut terjadi pada akhir pekan atau selama waktu libur, layanan perbaikan dibebankan pada tingkat premium, berbeda dengan biaya normal.  

Jika prosedur ini sudah berjalan dalam proses ketika kerusakan terjadi, ada biaya kerusakan lain mungkin tak ternilai dalam hal efeknya pada keselamatan pasien, kualitas perawatan pelayanan, dan reputasi rumah sakit itu sendiri.


Pertimbangan utama tambahan termasuk:

-    Waktu respon, keselamatan (safety), hukum (legal), persyaratan kualitas dan kepatuhan regulasi
-    Meningkatkan kehandalan dan availabelity asset
-    Mengatasi Inventarisasi Aset dan Status saat ini
-    Mengelola kompleksitas dalam perencanaan modal
-    Mengatasi pertimbangan pemeliharaan asset
-    Mengatasi Maintenance asset sebagai investasi (bukan sebagai Cost a)
-    Peran Facility Manager
-    Menetapkan standar tertinggi akurasi penyusutan dan praktik terbaik dalam manajemen aset tetap akan melunasi dalam penghematan dan efisiensi
-     Membantu Manajemen untuk mengoptimalkan efisiensi bisnis dan anggaran modal rencana


Melakukan Praktek Terbaik

Mulailah dengan inventaris yang akurat (memvalidasi informasi aset tetap dengan melakukan inventarisasi fisik lengkap) untuk memverifikasi aset tetap rumah sakit. Tanpa itu, tidak ada jumlah proses menambahkan, kontrol, atau perhitungan yang benar dapat menjamin keakuratan akuntansi aset tetap.
  • Dengan sebutan "hantu" aset. Sebuah "hantu" aset adalah properti yang afkir, hilang, dicuri, atau tidak dapat digunakan, namun masih terdaftar sebagai aset tetap aktif dalam sistem inventaris asset
  •  Melakukan inventarisasi aset fisik tentunya didukung dengan aplikasi Sistem Asset Manajemen yang baik. aktiva tetap harus diinventarisasi secara berkala dan teratur menggunakan metode standar di setiap unit bisnis. Departemen Bagian Umum, Departemen Gudang Inventaris dan fasilitas departemen harus bekerja sama untuk membangun sebuah sistem untuk melakukan persediaan back up serta menciptakan aset baru dalam sistem manajemen aset tetap pada saat pembelian. Dengan cara ini, kedua tim fasilitas dan manajer keuangan aset tetap dapat yakin bahwa prosedur operasional yang berkelanjutan akan menghasilkan informasi yang paling akurat mungkin dalam sistem manajemen aset tetap sistem kesehatan.
  • Tag pemilahan aset (secara penting dan tepat). Ketika rumah sakit memiliki banyak asset tetap yang hampir identik/ sama, hal itu bisa sangat mudah untuk membuat kesalahan dengan membuat catatan duplikat aset atau gagal untuk membuang aset yang benar ketika aset identik yang sama diafkir/ pensiun. Dimungkinkan dalam satu ruangan pelayanan, terdapat satu unit alat elektromedik dengan merk dan jenis yang sama tetapi memiliki serial number yang berbeda. Solusi termudah adalah untuk menandai setiap aset dengan identifikasi unik dalam bentuk label barcode. Ini memberikan keuntungan tambahan mempercepat proses persediaan gudang melalui penggunaan teknologi genggam yang dapat memindai dan merekam setiap kode barcode dalam waktu detik.
  •  Berinvestasi pada software akutansi dan gudang inventaris. Saya menyarankan agar Anda:   Jumlah alamat aktiva tetap yang akan diinventarisasi dalam aplikasi keuangan, Melakukan inventarisasi tahunan dalam Supply Chain Management, Menetapkan standar untuk persediaan dilakukan
  • Berkoordinasi dengan pengguna asset dan mengambil keputusan kebijakan yang tepat,  persediaan bahan habis pakai, sparepart bagian, pemeliharaan asset merupakan riwayat rantai yang tidak  terputus. Tentunya perlu dipahami kebutuhan asset alat kesehatan khusus menyesuaikan dengan pasien infeksius dan pasien non infeksius pada infeksi nosokomial yang berkembang

Ketika ditambahkan ke dalam formula penyusutan aktiva tetap manajemen, solusi terintegrasi akan menghemat waktu melalui rekonsiliasi otomatis pada data persediaan terbaru. "Dioptimalkan" software secara ototatisasid dan online mengurangi kesalahan karena data persediaan tidak harus secara manual kembali masuk ke dalam sistem. Untuk solusi efektif, harus mudah mengintegrasikan ke proses depresiasi yang ada aset tetap dan sistem buku besar Anda.

Untuk lebih mengurangi risiko kesalahan manusia perlu dan membuat penggunaan terbaik dari waktu karyawan, adalah penting bahwa sistem manajemen aset tetap mengintegrasikan dengan sistem akuntansi Anda. Semua modul manajemen aset tetap harus mengintegrasikan mulus bersama-sama dan mendamaikan dalam satu sistem terpusat catatan. Setiap kali data dapat secara otomatis dibagi antara aplikasi, waktu berharga yang disimpan yang seharusnya dapat dihabiskan secara manual kembali memasukkan data penting. Integrasi juga memastikan bahwa kesalahan klerikal, seperti kesalahan ketik, tidak biaya uang rumah sakit dan kompromi akurasi

Bermigrasi dari spreadsheet. Secara historis, manajer aset tetap telah menghitung penyusutan dengan menggunakan sistem warisan dan spreadsheet / workbook (non-sistem record) bahwa mereka harus mempertahankan secara manual. Membuat spreadsheet depresiasi membutuhkan pengeluaran besar waktu dan spreadsheet rentan terhadap banyak masalah, termasuk:
  • Kesalahan dalam formula yang tidak diketahui dan menyebabkan salah perhitungan 
  • Perubahan aturan dan peraturan pajak yang tidak mendapatkan dimasukkan
  • Kurangnya jejak audit dan sejarah
  • Ketidakmampuan untuk dengan mudah mengubah metode penyusutan untuk aset



Dimana jangan sampai sistem manajemen manajerial seperti undur-undur berjalan mundur, mubazir. 


Permasalahan :
  • Belum terintegrasinya secara menyeluruh antara asset dengan inventaris yang masih manual
  • Belum terintegrasinya aplikasi yang sudah terbentuk dengan aplikasi lain
  • Tidak terencananya breakdown asset, saat kerusakan alat, tidak ada alokasi biaya perbaikan, pelayanan pasien di lapangan tertunda
  • Tidak ada alokasi biaya pemeliharaan kontrak service alat kesehatan teknologi tinggi dan critical care lifesupport
  • Tidak adanya system pelaporan dan evaluasi yang berkesinambungan
  • Ketegasan dalam pengambilan peran kebijakan berhubungan dengan pelayanan
  • Kecepatan respon keluhan perbaikan dan costumer care
  • Tidak hanya berlaku bagi rumah sakit saja, tetapi juga pada asset manajemen vendor sebagai penyedia dan leader produk asset
Solusi :

  • Menerapkan aplikasi SIMRS yang terintegrasi seluruh rumah sakit
  • Menerapkan aplikasi SAMRS yang terintegrasi seluruh rumah sakit
  • Koordinasi secara menyeluruh dari pihak manajemen, perencanaan, keuangan, sumber daya manusia, unit pengadaan   dan pihak terkait terhadap pengelolaan aset.
  • Melakukan audit sertifikasi ISO 9001:2008 Manajemen Mutu secara berkala setiap 3 tahun. Sistem manajemen saat ini sangat terkait dengan keberhasilan dan kelangsungan hidup rumah sakit sebagai organisasi. Secara bersamaan, CEO dan Top Manajemen bisa menekankan pada penilaian mandiri (independent assessment) yang membantu memastikan sistem manajemen mereka 'sesuai tujuan'. 
  • Melakukan audit sertifikasi ISO/IEC 27001merupakan standar sistem manajemen keamanan informasi atau dikenal juga dengan Information Security Management System (ISMS). ISO/IEC 27001 sekarang ini telah banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang banyak menggunakan aplikasi IT dalam kegiatan bisnisnya.
  • Melakukan praktek terbaik dalam pengelolaan, pendataan inventarisasi aset, dan perencanaan asset jangka menengah dan jangka panjang.
  • Evaluasi manajemen aset secara internal dan eksternal melalui konsultan. Sehingga adanya kesalahan itu tidak untuk dimaklumkan, tetapi untuk dikoreksi dan diperbaiki. Dengan melihat permasalahan dari hulu ke hilir dan sudut pandang berbeda. Dengan target peningkatan pelayanan yang dinamis dan mengikuti perkembangan teknologi. 
  • Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung di lapangan sesuai kebutuhan pelayanan manajemen aset.
Teknik elektromedis di dalam hal ini hanyalah pelaksana di lapangan, dimana sebetulnya pengelolaan aset manajemen adalah ranah bagian Umum dan Aset, akan tetapi ada sangkut pautnya dengan pekerjaan teknik elektromedis yang melakukan pemeliharaan dan perbaikan kepada asset. Regulasi dan kebijakan sepenuhnya dipegang oleh manajemen dan organisasi. Dalam menuju visi dan misi organisasi yang lebih baik dan upaya peningkatan pelayanan, seharusnya manajemen asset rumah sakit bisa sesuai dan sejalan dengan perkembangan pelayanan di lapangan. Dengan adanya validitas data dan evaluasi secara bertahap  niscaya permasalahan yang bersangkutan dengan pengelolaan asset akan lebih ringan dan mudah untuk diantisipasi.

Artikel ini Reposting Tahun 2016

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner