Home » » Perlukah Operasi Selaput Dara Saat Sudah Tidak Perawan?

Perlukah Operasi Selaput Dara Saat Sudah Tidak Perawan?

 ilustrasi (foto: Thinkstock)

Jakarta, Sampai saat ini, masyarakat banyak memahami keperawanan sebagai utuhnya selaput dara. Keperawanan sendiri dikonotasikan sebagai keremajaan layaknya gadis belia. Dengan dalih menyenangkan suami, beberapa perempuan menjalani operasi untuk mengembalikan keutuhan selaput daranya.

Operasi perbaikan selaput dara ini dalam istilah kedokteran disebut dengan Himenoplasti. Tujuannya adalah menyatukan kembali selaput dara yang sudah robek. Operasi ini awalnya dilakukan karena alasan tertentu semisal memulihkan kondisi psikologis korban perkosaan atau trauma akibat kecelakaan.

Namun akhir-akhir ini banyak ditemui kasus para istri yang melakukan operasi perbaikan selaput dara demi memuaskan suami. Biasanya yang didapatkan dari operasi ini hanyalah sensasi mengeluarkan darah saat bercinta layaknya di malam pertama.

"Efeknya hanya untuk mengembalikan rasa percaya diri saja saat bersama pasangan dan tidak lantas membuat jadi singset. Memang ada operasi lain untuk rekonstruksi vagina, tapi berbeda dengan operasi selaput dara," kata Dr Frits Max Rumintjap, SpOG(K), MARS, dokter spesialis kandungan dari RS Ibu dan Anak Sentosa, Bogor kepada detikHealth, Rabu (19/9/2012).

Operasi rekonstruksi vagina yang dimaksud adalah vaginoplasti. Operasi ini bertujuan untuk mengembalikan atau memulihkan vagina tanpa meninggalkan fungsi estetiknya. Pada perempuan yang melahirkan kemudian otot panggulnya putus, vaginoplasti perlu diberikan. Tetapi kalau tidak terjadi apa-apa, operasi vagina sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Jika hanya sebatas ingin menambah kenikmatan saat berhubungan seksual, melatih otot panggul sebenarnya sudah cukup membantu. Namun mengoperasi selaput dara tidak akan banyak mempengaruhi kepuasan seksual.

"Harga operasi selaput dara bermacam-macam, tergantung dari dokter yang menangani dan rumah sakitnya. Di rumah sakit Indonesia ada yang biayanya sekitar Rp 10 juta. Tapi kalau di luar negeri atau rumah sakitnya canggih, bisa lebih mahal lagi," kata dr Frits.(pah/ir)


Sumber : Putro Agus Harnowo - detikHealth

0 komentar :

Masukkan kata kunci pencarian Anda :

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner