Ilustrasi (dok: Thinkstock)

Jakarta, Terapi radiasi adalah salah satu prosedur pengobatan standar bagi pasien kanker jenis apapun. Tapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, terkadang terapi ini tak selalu membuahkan hasil yang diinginkan.

Sebuah studi dari AS pun mengklaim menemukan cara untuk meningkatkan efektivitas terapi radiasi terhadap pasien kanker yaitu dengan berpuasa.

Tim peneliti dari University of Southern California berhasil menyimpulkan hal ini setelah melakukan serangkaian tes pada tikus yang mengidap tumor otak agresif.

Menurut peneliti, berpuasa dapat meningkatkan efektivitas terapi radiasi pada tikus pengidap kanker tersebut, termasuk memperpanjang harapan hidupnya.

"Puasa selama beberapa waktu (jangka pendek) dapat melindungi sel-sel sehat ketika sel-sel kanker mengalami kerentanan akibat dampak racun yang berasal dari kemoterapi," terang peneliti Valter Longo, profesor gerontologi dan ilmu biologi sekaligus direktur Longevity Institute, USC Davis School of Gerontology.

Studi yang telah ditampilkan dalam jurnal PLoS One ini merupakan yang pertama menunjukkan bahwa berpuasa tampaknya memiliki efek tambahan yang sama dengan terapi radiasi dalam mengobati tumor otak yang paling sering didiagnosis yaitu glioma.

Lagipula selama ini penderita glioma rata-rata hanya dapat bertahan hidup kurang dari dua tahun.

"Ketika kami melakukan studi tentang kemoterapi, kami ingin melihat bagaimana cara melindungi pasien melawan efek racun dari terapi itu. Tapi dengan studi tentang radiasi ini muncullah pertanyaan tentang kondisi apa yang membuat kanker menjadi rentan terhadap radiasi? Lalu bagaimana kami mengoptimalkan kondisi itu agar penderita kanker tak perlu harus sering-sering menjalani terapi di rumah sakit?" kata Longo seperti dilansir dari medindia, Rabu (12/9/2012).

Longo dan rekan-rekannya pun mempelajari efektivitas dari kombinasi puasa dengan terapi radiasi dan kombinasi puasa dengan obat kemoterapi Temozolomide yang belakangan digunakan sebagai pengobatan standar untuk tumor otak pada orang dewasa setelah menjalani operasi pengangkatan tumor.

Peneliti menemukan bahwa tikus yang 'dipaksa' untuk berpuasa tak lebih dari 48 jam setiap kali usai diradiasi terbukti mengalami peningkatan efektivitas radiasi dan kemoterapi untuk mengobati glioma yang dialaminya.

Terlepas dari agresifnya pertumbuhan tumor otak yang diamati dalam studi ini, tikus yang berpuasa sekaligus menerima terapi radiasi nyatanya dua kali lebih mungkin bertahan hidup di akhir periode percobaan dibandingkan jika hanya diberi terapi radiasi saja atau 'dipaksa' berpuasa saja.

"Hasilnya menunjukkan berpuasa memberikan manfaat bagi penderita glioma jika dikombinasikan dengan pengobatan standar yaitu kemoterapi dan radioterapi," tambah Longo.

Kendati begitu, Longo memperingatkan pasiennya untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter ahli kanker yang menanganinya sebelum menjalani puasa.

"Jika Anda ingin menyeimbangkan risiko maka Anda harus melakukannya dengan benar. Tapi jika tampaknya Anda kehabisan cara untuk mengobati tumor Anda, puasa jangka pendek bisa jadi memberikan peluang tambahan bagi sejumlah pasien," pungkasnya. (ir/ir)

Sumber : Rahma Lillahi Sativa - detikHealth  


0 komentar :

Masukkan kata kunci pencarian Anda :

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner