Potensi Kerugian Negara Akibat Maladministrasi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Pemerintah tidak boleh berbisnis dengan rakyat

 

Apa ada korelasinya dengan besaran tarif layanan antara Rumah Sakit Negeri dan Rumah Sakit Swasta ?

 Ada korelasi yang cukup kuat antara besaran tarif layanan dan kondisi alat-alat canggih di rumah sakit negeri vs swasta. Hubungan ini berkaitan dengan pendanaan, operasional, dan keberlanjutan layanan. 

Korelasi antara Tarif dan Kualitas/Pemeliharaan Alat

1. Tarif Layanan Mempengaruhi Pendapatan

  • Rumah sakit negeri umumnya menetapkan tarif layanan yang lebih rendah, apalagi yang mengikuti standar BPJS.

  • Rumah sakit swasta bebas menetapkan tarif lebih tinggi, sehingga pendapatan mereka pun lebih besar.

Dampaknya:
Rumah sakit swasta memiliki cadangan dana untuk:

  • Membayar teknisi perawatan alat secara rutin

  • Membeli suku cadang asli

  • Meng-upgrade teknologi secara berkala

2. Pemeliharaan Alat Bergantung pada Anggaran dan Klaim BPJS 

  • Di rumah sakit negeri, anggaran sering kali ditentukan pemerintah dan sudah dialokasikan sejak awal tahun, membuatnya tidak fleksibel. Terkadang Rumah Sakit Negeri harus menanggung hutang karena belum selesainya klaim BPJS

  • Rumah sakit swasta bisa mengalokasikan dana internal dengan cepat untuk kebutuhan mendesak seperti perbaikan alat.

Hasilnya: Rumah sakit swasta lebih sigap menjaga alat tetap dalam kondisi optimal.

3. Kualitas Alat Saat Pembelian

  • Karena keterbatasan tarif dan dana, rumah sakit negeri kadang terpaksa membeli alat dengan harga murah, yang belum tentu memiliki durabilitas tinggi.

  • Rumah sakit swasta berani berinvestasi lebih mahal untuk alat yang lebih canggih dan tahan lama.

4. Tarif Mencerminkan Model Bisnis

  • Rumah sakit negeri umumnya berorientasi pelayanan publik, bukan profit.

  • Rumah sakit swasta beroperasi dengan orientasi profit dan efisiensi, sehingga alat menjadi aset berharga yang harus dijaga agar tetap menghasilkan. 

Semakin tinggi tarif layanan, semakin besar peluang rumah sakit untuk menjaga alat tetap awet dan berfungsi baik. Tarif tinggi memungkinkan adanya:

  • Dana lebih untuk perawatan alat

  • Rekrutmen SDM teknis berkualitas

  • Pengadaan alat yang lebih unggul sejak awal

Namun demikian, ini bukan berarti semua rumah sakit swasta pasti lebih baik, karena faktor manajemen dan integritas juga sangat menentukan.

Bagaimana dengan peran penyesuaian tarif ina bcg bpjs untuk tarif layanan yang menggunakan alat-alat canggih teknologi tinggi ?

Tarif INA-CBG BPJS Kesehatan adalah faktor kunci yang memengaruhi kelangsungan layanan alat canggih di rumah sakit negeri.

Secara teknis dan ekonomi, penyesuaian tarif INA-CBG untuk layanan yang menggunakan alat teknologi tinggi sangat krusial. Mengapa? Mari kita bedah dari beberapa aspek berikut:

INA-CBG (Indonesia Case-Based Groups) adalah sistem paket tarif berbasis diagnosis dan prosedur yang digunakan oleh BPJS untuk membayar layanan kesehatan kepada rumah sakit.

  • Tarifnya bersifat flat untuk satu episode perawatan.

  • Tidak memperhitungkan variasi nyata dalam biaya operasional alat teknologi tinggi, kerusakan, atau perawatan alat.

  • Contoh: Biaya MRI untuk pasien stroke ringan dan berat bisa dibayar sama padahal kebutuhan alat dan durasinya berbeda.

     


    RS Negeri tidak punya pilihan — harus tetap melayani, meskipun defisit.

    RS Swasta sering membatasi layanan BPJS pada alat mahal, atau mensyaratkan pasien bayar sendiri

    Dalam konteks tarif INA-CBG yang belum ideal, birokrasi yang lambat, serta tekanan operasional di RS negeri, manajemen rumah sakit harus benar-benar putar otak untuk menyiasati keterbatasan agar pelayanan tetap berjalan, alat tetap awet, dan keuangan tidak jebol. 

Kenapa pemasangan Infus kepada Pasien, direkomendasikan menggunakan alat Kesehatan Infusion Pump ?

 

Pemasangan infus rata-rata menggunakan infusion pump terutama karena kebutuhan akan akurasi, keselamatan, dan efisiensi dalam pemberian cairan atau obat. Meskipun tidak semua infus harus memakai infusion pump, penggunaannya kini semakin direkomendasikan dalam pelayanan medis modern, khususnya di ruang perawatan intensif, ruang bedah, dan instalasi rawat inap dengan pasien risiko tinggi.

Alasan Mengapa Infus Rata-Rata Harus Menggunakan Infusion Pump:

1. Akurasi Pemberian Cairan & Obat

  • Infusion pump memastikan volume dan kecepatan sangat presisi, bahkan pada laju infus rendah seperti 0,1 mL/jam.

  • Cocok untuk obat-obatan dengan dosis kecil dan sensitif seperti dopamin, insulin, heparin.

2. Keselamatan Pasien

  • Mengurangi risiko:

    • Overdosis
    • Aliran cairan terlalu cepat/lambat
    • Underdosis
  • Beberapa model dilengkapi alarm otomatis jika terjadi:

    • Udara dalam selang (air embolism)

    • Oklusi (sumbatan)

    • Volume infus habis

3. Efisiensi Waktu Tenaga Medis

  • Tidak perlu menyesuaikan tetesan manual

  • Mempermudah pengawasan berkala, terutama dalam pasien kritis

  • Perawat bisa mengatur dosis terprogram dan fokus ke intervensi klinis lainnya

4. Pemantauan & Dokumentasi Lebih Baik

  • Infusion pump digital modern bisa terhubung ke SIMRS (Sistem Informasi Manajemen RS)

  • Data kecepatan infus, total cairan masuk, dan waktu tercatat otomatis

5. Standar Keselamatan dan Akreditasi

  • KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dan JCI (Joint Commission International) mendukung penggunaan infusion pump pada kasus:

    • Pemberian obat high-alert

    • ICU, NICU, dan kamar bedah

    • Terapi jangka panjang & cairan nutrisi parenteral

Kapan Boleh Tanpa Alat Infusion Pump?

  • Pemberian cairan biasa (NaCl, RL) tanpa obat khusus

  • Infus pasien stabil di ruang rawat biasa

  • Situasi darurat di lapangan (dengan tetesan manual cepat)

📌 Kesimpulan:

Infusion pump memberikan tingkat akurasi dan keamanan yang tidak bisa dicapai dengan infus manual, sehingga semakin banyak digunakan sebagai standar operasional rumah sakit modern, khususnya untuk pasien kritis dan pemberian obat-obatan berisiko tinggi.

Pada pemasangan infus manual, risiko meningkat bila tidak teliti memeriksa gelembung udara. Emboli udara adalah insiden serius yang bisa dicegah. Meskipun jarang menyebabkan kematian, emboli udara bisa menyebabkan gangguan napas, sirkulasi, hingga stroke jika tidak ditangani cepat. Udara yang masuk ke dalam selang infus, baik saat menggunakan infus manual maupun infusion pump , dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama jika udara tersebut masuk ke dalam sistem peredaran darah pasien.

 

Efek Buruk dari Udara Masuk ke dalam Infus

  • 1. Emboli Udara (Air Embolism)

    Merupakan komplikasi paling berbahaya.

    Penjelasan:
    Udara masuk ke pembuluh darah vena atau arteri → terbawa aliran darah → menyumbat aliran darah ke jantung, paru-paru, atau otak.

    Gejala:

  • Nyeri dada

  • Sesak napas mendadak

  • Pusing, pingsan

  • Penurunan tekanan darah

  • Henti jantung (kasus berat)

Kondisi kritis: Bisa berakibat fatal jika volume udara cukup besar dan tidak ditangani segera.

2. Gangguan Aliran Infus

  • Gelembung udara mengganggu presisi aliran cairan atau obat.

  • Pada infusion pump, alarm akan berbunyi jika terdeteksi udara (air-in-line detection).

  • Bisa membuat infus tidak bekerja efektif.

3. Reaksi Cemas atau Psikologis

  • Pasien yang melihat gelembung udara dalam selang bisa panik atau cemas, meskipun volumenya kecil dan tidak berbahaya. 


Berapa Banyak Udara yang Berbahaya?

  • < 0.5 mL umumnya tidak menimbulkan efek jika masuk perlahan melalui vena perifer.

  • > 10-20 mL bisa mulai menimbulkan gejala klinis.

  • > 50 mL secara cepat, terutama ke vena sentral, sangat berisiko tinggi dan bisa mengancam nyawa.

     

Pencegahan

  • Periksa gelembung udara sebelum menyambung infus.

  • Gunakan filter udara pada infus sentral.

  • Selalu isi penuh ruang tetes dan selang sebelum pemasangan.

  • Pastikan infusion pump dilengkapi sensor gelembung udara.

  • Teknik aseptik saat menyuntikkan obat ke selang infus.

📌 Kesimpulan:

Udara dalam infus, terutama dalam jumlah besar dan masuk cepat ke dalam sirkulasi, adalah insiden keselamatan pasien serius. Petugas medis harus selalu memeriksa dan mencegah masuknya udara saat pemberian infus

Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan - Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan 2015

 

“Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas  Pelayanan  Kesehatan”  ini  adalah  memberi  acuan  langkah  dan  tindakan  yang  diperlukan  dalam  pengelolaan  peralatan  kesehatan  mulai  dari  perencanaan,  pengadaan,  instalasi  dan  penerimaan,  penggunaan,  pemeliharaan  dan  penghapusan.

Buku  Pedoman  Pengelolaan  Peralatan  Kesehatan  disusun  untuk  memenuhi  kebutuhan  akan acuan  pengelolaan  peralatan  kesehatan  di  rumah  sakit,  yang  diharapkan juga dapat digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan secara umum.

Buku pedoman ini disusun berdasarkan referensi yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan buku referensi lain, serta mengikutsertakan tim yang yang berasal  dari  Organisasi  Profesi  Ikatan  Ahli  Teknik  Elektromedik  Indonesia (IKATEMI), perwakilan dari beberapa rumah sakit di Jakarta dan Bandung.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak atas kesediaan memberikan masukan,  sumbangsih  waktu,  pikiran  dan  tenaga  yang  tercurah    sehingga  buku pedoman ini dapat diselesaikan. Semoga pedoman ini bermanfaat, utamanya dalam upaya meningkatkan kualitas peralatan kesehatan di rumah sakit.

Direktur  Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
Ir. Sodikin Sadek, M.Kes





PENYUSUN

Dr. KUNTJORO ADI PURJANTO, M.Kes
drg. ANWARUL AMIN, MARS
Ir. NOVERITA DEWAYANI
Dra. ZUHARINA, Apt. 
PINKAN E. R. LANTANG, ST
SUGIARTO, ST, M Si
SUBADRI, ST, M.Si
DINI WIDIYANTI, ST
dr. JUNITA ROSA TIURMA 
IDA CHILWATI, SAP
FAISAL QURTUBI, S.Si
ASMARANTO PRAJOKO
AYU NUR LATIFAH, ST
 
KONTRIBUTOR

H. SURYONO NUGROHO, BE, ST, MMT
Ir. SODIKIN SADEK, M.Kes 
Ir. TORANG P. BATUBARA, MARS, MMR
K. CHANDRA MELIALA, DIPL. IM, M.Kes
RIKA SRIKANDI, SKM, M.Kes
LINA HAIDA, SKM, M.Kes 
IMAN LUBIS
AGUS KOMARUDDIN, ST, MT

 

Standar Profesi Elektromedik - KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/314/2020

   

Standar Profesi Elektromedis yang selanjutnya disebut standar profesi adalah batasan kemampuan minimal berupa pengetahuan, keterampilan,dan perilaku profesional yang harus dikuasai dan dimiliki oleh Elektromedis untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh Organisasi Profesi (IKATEMI).

Maksud dari pengaturan Standar Kompetensi Elektromedis sebagai acuan bagi profesi Elektromedis dalam menjalankan praktik keprofesiannya. Tujuan pengaturan Standar Kompetensi Elektromedis yaitu meningkatkan kualitas tenaga Elektromedis sesuai standar kompetensi dan etika profesi dalam pelayanan Elektromedik yang handal di fasilitas pelayanan kesehatan.


DOWNLOAD STANDAR KOMPETENSI ELEKTROMEDIK

Buku Akreditasi Rumah Sakit KARS SNARS Edisi 1

Penerbitan Surat Tanda Registrasi Elektronik (e-STR) Surat Edaran Nomor KT.05.02/1/3326/2021

 




Download Lebih Lengkap DISINI

PEDOMAN PENGELOLAAN PERALATAN KESEHATAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN - Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan


Buku  Pedoman  Pengelolaan  Peralatan  Kesehatan  disusun  untuk  memenuhi  kebutuhan  akan acuan  pengelolaan  peralatan  kesehatan  di  rumah  sakit,  yang  diharapkan juga dapat digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan secara umum.

Buku pedoman ini disusun berdasarkan referensi yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan buku referensi lain, serta mengikutsertakan tim yang yang berasal  dari  Organisasi  Profesi  Ikatan  Ahli  Teknik  Elektromedik  Indonesia (IKATEMI), perwakilan dari beberapa rumah sakit di Jakarta dan Bandung.

Pada  buku  pedoman  ini  dibahas  mengenai  siklus  peralatan  kesehatan,  yaitu  preMarket  dan  postMmarket.  Pengelolaan  pada  buku  pedoman  ini  adalah  pada  siklus postMarket  dimulai  dari  perencanaan  dan  pengadaan,  penerimaan  dan  instalasi, pengoperasian,  pemeliharaan  dan  perbaikan,  postMmarket  surveillance, dekontaminasi, penarikan dan penghapusan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak atas kesediaan memberikan masukan,  sumbangsih  waktu,  pikiran  dan  tenaga  yang  tercurah    sehingga  buku pedoman ini dapat diselesaikan. Semoga pedoman ini bermanfaat, utamanya dalam upaya meningkatkan kualitas peralatan kesehatan di rumah sakit.

Direktur  Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
Ir. Sodikin Sadek, M.Kes





PENYUSUN

Dr. KUNTJORO ADI PURJANTO, M.Kes
drg. ANWARUL AMIN, MARS
Ir. NOVERITA DEWAYANI
Dra. ZUHARINA, Apt. 
PINKAN E. R. LANTANG, ST
SUGIARTO, ST, M Si
SUBADRI, ST, M.Si
DINI WIDIYANTI, ST
dr. JUNITA ROSA TIURMA 
IDA CHILWATI, SAP
FAISAL QURTUBI, S.Si
ASMARANTO PRAJOKO
AYU NUR LATIFAH, ST
 
KONTRIBUTOR

H. SURYONO NUGROHO, BE, ST, MMT
Ir. SODIKIN SADEK, M.Kes 
Ir. TORANG P. BATUBARA, MARS, MMR
K. CHANDRA MELIALA, DIPL. IM, M.Kes
RIKA SRIKANDI, SKM, M.Kes
LINA HAIDA, SKM, M.Kes 
IMAN LUBIS
AGUS KOMARUDDIN, ST, MT 







Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan


WHO


Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuhan untuk meningkatkan praktek bagaimana untuk mengelola sudah lama diketahui dan ditangani di berbagai forum internasional. Fasilitas kesehatan di banyak negara masih dibebani banyak masalah, termasuk tidak berfungsinya peralatan medis sebagai akibat dari faktor-faktor seperti perencanaan yang tidak memadai, pengadaan yang tidak tepat, rendahnya tingkat pengelolaan teknis teknologi kesehatan, dan kekurangan tenaga terampil. Situasi ini serupa untuk sistem aset fisik lainnya seperti bangunan, pabrik dan mesin, perabot dan perlengkapan, sistem komunikasi dan informasi, katering dan peralatan laundry, pembuangan limbah, dan kendaraan.

Penyediaan yang merata, berkualitas dan kesehatan yang efisien membutuhkan sebuah tujuan faktor yang luar biasa dari masukan pengelolaan sumber daya yang benar-benar seimbang. Sumber daya fisik seperti aktiva tetap dan bahan habis pakai, sering digambarkan sebagai teknologi kesehatan. Teknologi adalah platform untuk akses kesehatan, dan dasar untuk penyediaan semua intervensi kesehatan. Generasi teknologi, penguasaan dan pemanfaatan memerlukan investasi besar-besaran, dan kebijakan pihak terkait yang harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan opsi terbaik antara pasokan teknologi dan kebutuhan sistem kesehatan, diperlukan keseimbangan yang tepat antara modal dan biaya berulang, dan kapasitas untuk mengelola teknologi sepanjang waktu.

Kesalahan pengelolaan aset fisik berdampak pada kualitas, efisiensi dan keberlanjutan pelayanan kesehatan di semua tingkatan, baik itu di sebuah rumah sakit utama pusat yang didukung dengan peralatan canggih pendukung kehidupan, atau pada tingkat kesehatan primer di mana peralatan sederhana yang dibutuhkan untuk diagnosis yang efektif dan pengobatan yang aman pada pasien. Apa yang penting - di semua tingkatan dan di semua level - adalah waktu kritis dimana peralatan dipakai tepat, dan benar berfungsi dan laik digunakan dan diterapkan dengan benar oleh personel yang kompeten, dengan resiko minimal untuk pasien mereka dan diri mereka sendiri (operator). 

Kebijakan yang jelas, bimbingan teknis, dan tools alat-alat pelatihan diperlukan untuk manajemen yang efektif dan efisien dari teknologi kesehatan untuk berdampak langsung pada prioritas masalah kesehatan  dan kapasitas sistem kesehatan untuk  menanggapi kebutuhan kesehatan dan harapan yang diinginkan.

Seri Guides ini bertujuan untuk mempromosikan manajemen yang lebih baik dari teknologi kesehatan dan memberikan saran praktis tentang semua aspek penggunaan dan pemanfaatan, serta pada organisasi dan pembiayaan kesehatan layanan teknis yang dapat memberikan Bagaimana untuk Mengelola yang efektif.
Diharapkan Panduan ini akan banyak digunakan dalam kerjasama dengan semua stakeholder yang tepat dan sebagai bagian dari "Bagaimana untuk Mengelola" yang lebih luas dan inisiatif peningkatan kapasitas yang sedang dikembangkan, dipromosikan dan dilaksanakan oleh WHO dan mitra-mitranya, dan karena itu akan memberikan kontribusi berdasarkan praktek "Bagaimana untuk Mengelola" yang terbaik. 

Published by TALC, Ziken International (Consultants) Ltd,Copyright © 2005 Ziken International

Download Series Buku tersebut, klik pada judul buku :

http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide1.pdf 

 

http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide2.pdf
 
 
 
http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide3.pdf 
 
 
 
http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide4.pdf 

 

http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide5.pdf


http://clinicalengineering.in/wp-content/uploads/2013/12/HCTGuide6.pdf 
 



Buku ini bagus untuk Anda yang sedang giat pada kuliah Manajemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dan secara tidak langsung berhubungan dengan manajemen pemeliharaan dan pengelolaan  rumah sakit. Semoga bermanfaat :)


Buku WHO Medical Device - Technical Series




Untuk memenuhi tujuan dari Global Initiative on Health Technologies (GIHT) , WHO dan mitra telah menyusun agenda, rencana aksi, alat dan pedoman untuk meningkatkan akses ke alat-alat medis yang tepat. Serangkaian dokumen referensi telah dikembangkan untuk digunakan di tingkat negara. Beberapa buku seri ini akan mencakup bidang subjek sebagai berikut:

  •  Kerangka kebijakan untuk teknologi kesehatan
  •  Pengkajian teknologi kesehatan
  •  Manajemen teknologi kesehatan
    • Penilaian kebutuhan alat kesehatan
    • Pengadaan perangkat medis
    • Sumbangan peralatan medis
    • Manajemen persediaan peralatan medis
    • Pemeliharaan peralatan medis
    • Sistem manajemen pemeliharaan terkomputerisasi
  • Peraturan perangkat medis   
  • Data perangkat medis 
    • Perangkat medis nomenklatur
    • Perangkat medis dengan pengaturan perawatan kesehatan
    • Perangkat medis dengan prosedur klinis
  • Perangkat medis inovasi, penelitian dan pengembangan.
Termasuk di sini terdapat delapan dokumen dalam seri diterbitkan sesuai (dalam huruf tebal di atas). Dokumen itu sendiri dimaksudkan untuk digunakan oleh insinyur klinis, insinyur biomedical engineering, manajer kesehatan, donor, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga akademis yang terlibat dalam teknologi kesehatan di tingkat kabupaten, tingkat nasional, regional atau global.

Berikut daftar seri buku yang diterbitkan oleh WHO, anda bisa download dengan save as pada judul buku tersebut :

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=8

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=9

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=10

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=11

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=12

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=13

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=14

http://cetalk.clinicalengineering.in/download/file.php?id=15




 Semoga bermanfaat :)

Artikel Rekomendasi

Bagaimana untuk Mengelola "How To Manage" Series untuk Teknologi Kesehatan

WHO Teknologi kesehatan dan manajemen teknologi kesehatan telah menjadi isu kebijakan yang semakin terlihat. Sementara kebutuh...

Popular Post

Recomended

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner